Belopa Masih Jadi Episentrum, Ribuan Anak di Luwu Belum Tuntas Mengakses Pendidikan

photo author
Syamsir Anchi, Metro Selebes
- Sabtu, 25 Juli 2026 | 19:26 WIB
Ribuan anak di Kabupaten Luwu masih tercatat putus sekolah atau tidak melanjutkan pendidikan pada 2025, Belopa menjadi wilayah tertinggi. (Dok.Instagram@tanaluwuinfo)
Ribuan anak di Kabupaten Luwu masih tercatat putus sekolah atau tidak melanjutkan pendidikan pada 2025, Belopa menjadi wilayah tertinggi. (Dok.Instagram@tanaluwuinfo)

Inti berita:

• Meski angka putus sekolah dan lulus tidak melanjutkan di Kabupaten Luwu menurun pada 2025, sebanyak 4.662 anak masih terdampak, dengan Kecamatan Belopa tetap menjadi wilayah penyumbang kasus tertinggi selama dua tahun berturut-turut.

 

MetroSelebes.com, BELOPA - Harapan agar setiap anak di tanah Luwu bisa mengenyam pendidikan hingga tuntas masih belum sepenuhnya menjadi kenyataan. Data terbaru menunjukkan ribuan anak masih putus sekolah atau tidak melanjutkan pendidikan, dengan Kecamatan Belopa kembali menjadi wilayah penyumbang kasus terbanyak selama dua tahun berturut-turut.

Data Dinas Pendidikan Kabupaten Luwu mencatat sebanyak 4.662 anak masuk kategori putus sekolah (drop out/DO) dan lulus tidak melanjutkan (LTM) sepanjang 2025. Jumlah itu lebih rendah dibanding 2024 yang mencapai 5.154 kasus, namun masih menjadi pekerjaan rumah besar dalam upaya memastikan setiap anak memperoleh hak pendidikan sebagaimana diamanatkan konstitusi.

Baca juga: Emak-emak Hadang Akses Jalan, Penolakan TPA Salurano di Mamasa Memanas 

Sorotan utama tertuju pada Kecamatan Belopa yang selama dua tahun berturut-turut menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi. Pada 2024 terdapat 649 kasus, sedangkan pada 2025 masih tercatat 410 kasus, menjadikan Belopa sebagai daerah dengan angka putus sekolah dan tidak melanjutkan pendidikan paling tinggi di Kabupaten Luwu.

Selain Belopa, Kecamatan Ponrang dan Larompong juga masih berada dalam daftar wilayah dengan kasus terbanyak. Pada 2025, Ponrang mencatat 379 kasus, disusul Larompong 376 kasus. Meski jumlahnya menurun dibanding tahun sebelumnya, data tersebut menunjukkan tantangan pemerataan akses pendidikan belum sepenuhnya teratasi.

Baca juga: Haul Syekh Yusuf Jadi Ruang Menjaga Warisan Perjuangan, Ketua DPRD Sulsel Ajak Teladani Nilai Keilmuan dan Akhlak 

Dinas Pendidikan Kabupaten Luwu menilai penurunan angka tersebut menjadi sinyal positif bahwa berbagai upaya penanganan mulai menunjukkan hasil. Namun, pemerintah daerah mengakui masih diperlukan langkah yang lebih terarah agar anak-anak yang rentan putus sekolah dapat kembali memperoleh kesempatan belajar.

"Terjadi penurunan dibanding tahun sebelumnya, tetapi angka ini tetap menjadi perhatian serius karena masih banyak anak yang belum melanjutkan pendidikan," demikian keterangan yang disampaikan berdasarkan data Dinas Pendidikan Kabupaten Luwu.

Baca juga: URI Bukan Jawaban, Indonesia Membutuhkan Reformasi Sistem Kaderisasi Kepemimpinan Nasional

Pengamat pendidikan menilai persoalan putus sekolah tidak hanya dipengaruhi faktor ekonomi, tetapi juga kondisi sosial, akses pendidikan, hingga dukungan keluarga. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat dinilai menjadi kunci untuk menekan angka putus sekolah sekaligus memastikan setiap anak di Luwu memperoleh kesempatan pendidikan yang berkelanjutan. (*)

(Fir/Ade)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Syamsir Anchi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X