Inti berita:
• Aktivis sayap kanan Jake Lang merobek Al-Qur’an di gereja Harlem, New York, memicu kecaman dan perdebatan soal kebebasan berekspresi.
• Aksi mantan narapidana tersebut bukan kali pertama, sebelumnya ia terlibat pembakaran Al-Qur’an, dan memicu protes umat muslim.
METROSELEBES.com, NEW YORK — Suasana di sebuah gereja di kawasan Harlem, New York, mendadak berubah ketika aktivis sayap kanan Amerika Serikat, Jake Lang, mengangkat sebuah mushaf Al-Qur’an di hadapan jemaat. Pada Sabtu (5/9/2026), Lang kemudian merobek kitab suci umat Islam tersebut dalam sebuah aksi yang disertai pernyataan bernada anti-Islam.
Aksi itu berlangsung di ATLAH World Ministries, gereja yang dikenal dipimpin Pastor James Manning. Lang dilaporkan menyampaikan sejumlah pernyataan ofensif sebelum merobek lembaran Al-Qur’an. Ia juga menyerukan agar umat Muslim meninggalkan atau diusir dari New York. "Pergi dari New York," ujar Lang yang disambut jemaah lainnya.
Baca juga: Ustaz Riza Siapkan Langkah Hukum, Bantah Tudingan Miring dari Video Lama
Video aksi tersebut kemudian menyebar di media sosial dan memantik perdebatan. Sejumlah pihak menilai tindakan Lang bukan sekadar ekspresi politik, melainkan provokasi terhadap kelompok agama tertentu. Namun, aksi tersebut juga kembali menyoroti batas kebebasan berekspresi di Amerika Serikat, yang secara konstitusional memberikan perlindungan luas terhadap ekspresi politik dan keagamaan, meski bukan berarti seluruh bentuk tindakan otomatis terbebas dari konsekuensi hukum.
Lang sendiri bukan nama baru dalam aksi kontroversial. Ia sebelumnya dikenal sebagai salah satu peserta kerusuhan Gedung Capitol AS pada 6 Januari 2021. Dalam rekam jejak yang dikutip dalam laporan sebelumnya, ia juga pernah terlibat dalam aksi anti-Islam di Dearborn, Michigan, termasuk percobaan pembakaran Al-Qur’an.
Baca juga: Ingatan Febiola Memudar usai Diduga Keracunan MBG, Keluarga Korban Kini Menuntut Kepastian
Pada Mei 2026, Lang kembali menjadi sorotan setelah melakukan aksi pembakaran Al-Qur’an di depan Islamic Center of America di Dearborn. Sebelumnya, pada 2025, ia dilaporkan mencoba membakar Al-Qur’an dalam demonstrasi di kota yang memiliki komunitas Arab-Amerika cukup besar tersebut.
Pola aksi itu membuat insiden Harlem dipandang sebagai bagian dari rangkaian provokasi yang lebih panjang. Sejumlah kelompok hak sipil dan komunitas lintas agama mengecam tindakan tersebut karena dinilai dapat memperuncing sentimen keagamaan dan meningkatkan ketegangan antarkelompok. Di sisi lain, pendukung Lang menjadikan isu kebebasan berbicara sebagai salah satu dasar pembelaan terhadap aktivitasnya, meski isi dan cara penyampaiannya menuai penolakan luas.
Baca juga: Harta Rp16,17 Miliar, Nama Anggota DPR Masuk Data PKH: Eva Minta Data Segera Diperbaiki
Kini, persoalannya bukan semata soal aksi merobek Al-Qur’an, tetapi juga mencerminkan kekhawatiran sebagian kelompok terhadap perkembangan komunitas Muslim dan Islam di Amerika Serikat. Ironisnya, sikap tersebut justru datang dari sosok yang mengatasnamakan dirinya sebagai aktivis, tetapi tindakannya dinilai bertentangan dengan prinsip penghormatan terhadap kebebasan beragama.
Artikel Terkait
Cuaca Sulsel Hari Ini Didominasi Cerah Berawan, BMKG Ingatkan Warga soal Angin Kencang dan Udara Panas
Polda Sulsel Bongkar 11 Modus Penipuan Online, Korban Rugi hingga Rp614 Juta
Harta Rp16,17 Miliar, Nama Anggota DPR Masuk Data PKH: Eva Minta Data Segera Diperbaiki
Malam Terakhir Enam Anak di Paniai, Api Pasar Tinggalkan Duka dan 148 Pengungsi
Ingatan Febiola Memudar usai Diduga Keracunan MBG, Keluarga Korban Kini Menuntut Kepastian
Bosowa Peduli Sambangi Korban Kebakaran Tamalanrea, Umar: Terima Kasih Atas Kepeduliannya
Ustaz Riza Siapkan Langkah Hukum, Bantah Tudingan Miring dari Video Lama