Inti berita:
• Indonesia resmi memperoleh peringkat kredit AAA/Stable dari Lianhe Credit Rating China sebagai modal penerbitan Panda Bond perdana senilai US$1 miliar, sekaligus memperluas akses pendanaan global dan basis investor di pasar obligasi China.
MetroSelebes.com, SHANGHAI – Di tengah dinamika pasar keuangan global yang masih dibayangi ketidakpastian, Indonesia justru mencatat capaian yang membuka babak baru dalam strategi pembiayaan negara. Untuk pertama kalinya, pemerintah memperoleh peringkat kredit tertinggi AAA dengan prospek stabil (AAA/Stable) dari lembaga pemeringkat domestik China, Lianhe Credit Rating, menjelang penerbitan surat utang berdenominasi Yuan atau Panda Bond.
Peringkat tersebut menjadi modal penting bagi pemerintah untuk memasuki pasar obligasi domestik China melalui penerbitan Panda Bond senilai sekitar US$1 miliar atau setara 7 miliar yuan. Langkah ini dinilai sebagai upaya memperluas sumber pembiayaan negara sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pendanaan berbasis dolar Amerika Serikat.
Dalam penilaiannya, Lianhe Credit Rating menyebut fundamental ekonomi Indonesia masih berada pada level yang kuat. Prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang dinilai tetap positif, sementara rasio utang pemerintah yang berada di kisaran 40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dianggap masih dalam batas yang aman sehingga mendukung pemberian peringkat tertinggi tersebut.
Penerbitan obligasi perdana itu dirancang dalam dua pilihan tenor. Porsi terbesar ditawarkan untuk tenor tiga tahun dengan target indikatif sekitar 5 miliar yuan, sedangkan sisanya diterbitkan melalui tenor lima tahun sebesar 200 juta yuan. Struktur tersebut disiapkan untuk menarik minat investor di pasar keuangan China yang merupakan pasar obligasi terbesar kedua di dunia.
Baca juga: Salah Paham Berujung Bentrok, Konstatering Lahan di Manggala Diwarnai Blokade Jalan dan Gas Air Mata
Masuknya Indonesia ke pasar obligasi China juga dipandang memiliki dampak strategis bagi dunia usaha nasional. Selain memperluas basis investor internasional, langkah ini berpotensi membuka jalur pembiayaan baru bagi korporasi Indonesia yang ingin mengakses pasar modal di Negeri Tirai Bambu. Di sisi lain, sejumlah analis mengingatkan bahwa keberhasilan jangka panjang tetap akan bergantung pada stabilitas ekonomi domestik, kondisi pasar global, serta minat investor terhadap instrumen berbasis yuan.
Head of Capital Markets Greater China & North Asia Standard Chartered, David Yim, menilai kehadiran pemerintah Indonesia di pasar obligasi China merupakan momentum penting. "Penerbitan ini merupakan tonggak penting. Masuknya pemerintah Indonesia akan menciptakan tolok ukur (benchmark) yang jelas di pasar, yang nantinya dapat membuka pintu dan mempermudah perusahaan-perusahaan korporasi asal Indonesia untuk ikut mencari pendanaan di pasar obligasi China," ujar David Yim dikutip dari pernyataan resminya.
Untuk mendukung proses penerbitan tersebut, pemerintah menunjuk konsorsium perbankan internasional yang dipimpin Bank of China sebagai lead underwriter, bersama sejumlah lembaga keuangan global lainnya. Proses penawaran kepada investor dijadwalkan berlangsung pada pekan ini dan diharapkan menjadi langkah awal Indonesia memperkuat posisi di pasar keuangan Asia sekaligus memperluas alternatif pembiayaan pembangunan nasional. (*)
(Key/Ade)
Artikel Terkait
173 Siswa Bintara Mulai Digembleng di SPN Polda Sulsel, Kapolda Tekankan Integritas dan Profesionalisme
Salah Paham Berujung Bentrok, Konstatering Lahan di Manggala Diwarnai Blokade Jalan dan Gas Air Mata
Massa Mahasiswa Desak Transparansi Penanganan Dugaan Kasus Febrie Adriansyah, Aksi di Kejagung Sempat Memanas
Taklukkan Ganda Putra Nomor 1 Dunia, Fajar/Fikri Juara Japan Open 2026 dan Kantongi Rp1,26 Miliar
Ribuan Calon Siswa SMA Negeri di Sulsel Terancam Tak Kebagian Bangku, DPRD Jemput Solusi ke Kemendikbud