Inti berita:
• Yuli Nofita Sari, staf Sekretariat DPRD Bone, mengaku tetap bekerja meski melaporkan dugaan tindakan arogan Ketua DPRD Bone ke polis.
• Ia mengaku menjadi tulang punggung keluarga sementara kasus tersebut masih dalam proses hukum.
MetroSelebes.com, BONE - Suara perbincangan tentang dugaan insiden di lingkungan DPRD Kabupaten Bone belum juga mereda. Namun, bagi Yuli Nofita Sari (29), rutinitas sebagai staf Sekretariat DPRD tetap harus dijalani. Perempuan yang mengaku menjadi korban dugaan tindakan tidak pantas oleh Ketua DPRD Bone itu memilih terus bekerja karena merasa memikul tanggung jawab menghidupi keluarganya.
Laporan Yuli berawal dari dugaan perlakuan yang disebut terjadi saat dirinya menyiapkan hidangan untuk tamu pimpinan DPRD. Ia mengaku wajahnya dilempari kue dan botol di hadapan sejumlah orang setelah dituding tidak becus menyiapkan konsumsi. Perkara tersebut kini telah dilaporkan ke kepolisian dan masih dalam proses penanganan. Hingga saat ini, belum ada putusan hukum yang berkekuatan tetap terkait kasus tersebut.
Baca juga: Sidak Jam 3 Pagi, Kepala BGN Sudaryono Bongkar Kendala Distribusi MBG untuk Ibu Hamil
Menurut Yuli, keputusan untuk tetap bekerja bukan perkara mudah. Ia mengaku menjadi tulang punggung keluarga sejak ayahnya meninggal dunia pada 2020. Sang ibu disebut dalam kondisi sakit, sementara kebutuhan keluarga dan adiknya masih menjadi tanggung jawabnya. "Ada kakak saya juga, cuma saya yang jadi tulang punggung keluarga. Saya yang urus adik dan mama saya yang sakit," ujar Yuli.
Perjalanan Yuli di Sekretariat DPRD Bone dimulai pada 2019 sebagai tenaga honorer. Ia kemudian diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu pada 2025. Kesempatan bekerja itu, kata Yuli, bermula dari rekomendasi mantan Wakil Ketua DPRD Bone, Andi Wahyudi Taqwa, yang disebut memberi perhatian kepada keluarganya setelah sang ayah meninggal.
Tugas yang diemban Yuli berada di Bagian Umum Sekretariat DPRD Bone. Selain menyiapkan konsumsi bagi pimpinan dan tamu, ia juga mendampingi kegiatan reses hingga menghadiri rapat pada malam hari apabila diperlukan. Meski memiliki tanggung jawab yang cukup padat, Yuli mengaku menerima penghasilan sekitar Rp1 juta setiap bulan.
Yuli juga menyebut dirinya menjadi pihak yang mengurus seluruh proses pemesanan hingga penyajian makanan, termasuk berkoordinasi dengan rekanan terkait pembayaran. Karena itu, menurut pengakuannya, setiap kali muncul persoalan mengenai konsumsi, dirinya menjadi orang pertama yang dimintai penjelasan. Pernyataan tersebut merupakan versi Yuli, sementara pihak Ketua DPRD Bone sebelumnya telah menyampaikan penjelasan tersendiri terkait polemik ini. MetroSelebes.com mengedepankan asas praduga tak bersalah dan akan memuat perkembangan dari seluruh pihak seiring proses hukum yang masih berjalan.(*)
(Ram/Sam)