Kesepakatan serupa antara AS dan Jepang awal pekan ini juga menumbuhkan harapan tercapainya perjanjian sejenis bagi Eropa.
Chief Financial Officer Volkswagen, Arno Antlitz, menyatakan bahwa jika Eropa bisa mencapai kesepakatan tarif seperti Jepang (yakni 15%), maka margin keuntungan perusahaan akan berada di pertengahan kisaran proyeksi. Namun ia mengingatkan bahwa waktu sangat terbatas. “Kita sudah memasuki akhir Juli, semakin lama kesepakatan tertunda, semakin besar kemungkinan kita hanya mencapai batas bawah dari proyeksi,” ujarnya.
Baca Juga: Investor Antusias Sambut Potensi Kesepakatan Dagang AS-Uni Eropa Jelang Tenggat Tarif 1 Agustus
Saat ditanya apakah akan ada kenaikan harga untuk menutup kerugian, Antlitz menolak memberikan komentar.
Kerugian Besar Audi dan Porsche
Volkswagen mencatat laba operasional sebesar 3,8 miliar euro untuk kuartal yang berakhir pada 30 Juni, turun 29% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini dipicu tarif, biaya restrukturisasi, serta peningkatan penjualan mobil listrik dengan margin rendah.
Secara global, pengiriman kendaraan Volkswagen memang naik 1,5% pada enam bulan pertama 2025, namun pengiriman ke AS justru merosot hampir 10%. Pendapatan dari kawasan Amerika Utara sendiri menyumbang sekitar 18,5% dari total penjualan global Volkswagen.
Khusus Audi dan Porsche, kerugian cukup dalam karena keduanya tidak memiliki fasilitas produksi di AS dan sangat bergantung pada ekspor. Di kuartal kedua, laba operasional Porsche merosot lebih dari 90% menjadi hanya 154 juta euro, sementara Audi turun 64% menjadi 550 juta euro.
Baca Juga: Investor Antusias Sambut Potensi Kesepakatan Dagang AS-Uni Eropa Jelang Tenggat Tarif 1 Agustus
“Untuk Audi dan Porsche, kami perkirakan posisi terendah akan tercapai tahun ini, dan akan mulai menunjukkan momentum positif mulai 2026,” tutur Blume.