MetroSelebes - Pada tanggal 7-9 November 2023, DPP LDII mengadakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Grand Ballroom Minhaajurrosyidin, Jakarta. Keberhasilan acara nasional tersebut dapat dicapai berkat kekompakan dan kesolidan seluruh penyelenggara.
Salah satu yang menjadi sorotan semua orang yakn penampilan Pencak Silat di Rakernas LDII, bahkan Jokowi pun memuji penampilan tersebut.
"Yang ditampilkan dari Pencak Silat tadi sudah benar (dalam kebhinnekaan), apalagi ketuanya Pak Prabowo," ujar Jokowi saat membuka Rakernas LDII.
Baca Juga: Pemkot Palu Resmi Tutup Acara Pengajian LDII 'Asrama Bukhori Juz 3' di Kota Palu
Nurwahyudin, Ketua Seksi Acara Rakernas LDII 2023, menyatakan bahwa meskipun persiapan tim relatif singkat, anggota tim sebagian besar merupakan anggota tim yang sudah lama bekerja bersama.
Mereka saling mengenal dengan baik, dan alhamdulillah, persiapan yang singkat tidak menjadi hambatan yang signifikan.
Setiap seksi mengikuti arahan panitia pengarah dan penyelenggara, termasuk seksi acara yang menerima masukan dari berbagai pihak. Konsep acara tersebut merupakan hasil gagasan dari semua pihak yang terlibat.
“Kami menerima masukan, saran, dan arahan dari berbagai pihak terkait konsep acara melalui musyawarah dan konsolidasi. Kami berusaha sebaik mungkin untuk mengintegrasikan masukan tersebut menjadi sebuah kolaborasi acara yang menyeluruh dengan konsep Indonesia Emas,” ujarnya.
Dalam pelaksanaan Rakernas, panitia menampilkan pertunjukan teatrikal pencak silat oleh Perguruan Pencak Silat Nasional (Persinas) ASAD, serta pengibaran bendera raksasa berukuran 60 meter persegi. Penggunaan teatrikal pencak silat dijelaskan sebagai upaya untuk menjaga kebhinekaan dan mewujudkan kegemilangan Indonesia Emas 2045.
“Bendera raksasa yang berkibar di atas kepala seluruh peserta Rakernas merupakan simbol nasionalisme LDII untuk bangsa,” tambah pengurus Departemen Hubungan Antar Lembaga dan Luar Negeri (HAL-LN) DPP LDII.
Dalam konteks atraksi pencak silat, koordinator tim pesilat Weda Hendragiri menjelaskan bahwa para pelatih, nayogo, dan pesilat telah mempersiapkan diri selama sekitar dua bulan.
Tema teatrikal mencerminkan kebhinekaan, dengan filosofi bahwa perbedaan di antara suku, ras, etnis, dan budaya di Indonesia harus disatukan.