Penelitian sebelumnya juga menemukan material tanah dan sedimen yang oleh tim dikaitkan dengan lingkungan laut purba, termasuk sisa organisme laut yang diperkirakan berusia ribuan tahun. Data tersebut menjadi bagian dari upaya merekonstruksi kondisi lingkungan kawasan Durupinar pada masa lampau.
Di sisi lain, penjelasan geologi memberikan perspektif berbeda. Sejumlah ahli geologi menilai Formasi Durupinar dapat terbentuk secara alami melalui kombinasi proses erosi, pergerakan tektonik dan aktivitas gempa di kawasan Turki Timur. Karena itu, bentuk menyerupai kapal maupun anomali bawah tanah belum cukup untuk mengesampingkan kemungkinan bahwa formasi tersebut merupakan fenomena geologi.
Kini, jawaban berikutnya ditunggu dari laboratorium. Material yang berhasil diperoleh sebelum pengeboran terhenti akan dianalisis, termasuk melalui penanggalan radiokarbon jika terdapat material organik yang memenuhi syarat pengujian. Sampai hasil penelitian dan verifikasi independen tersedia, patahnya mata bor mungkin menjadi petunjuk menarik—tetapi belum menjadi bukti bahwa misteri Bahtera Nabi Nuh telah terpecahkan. (*)
(Key/Ade)
Artikel Terkait
HT Jadi Tersangka, Kortastipidkor Dalami Peran Pihak Lain dan Buka Peluang Tersangka Baru
Guruh Soekarnoputra Meninggal Dunia di Usia 73 Tahun, PDIP Kehilangan Sosok Seniman dan Pejuang Partai
Operasi Maraton DVI KM Virgo Transport 8, 25 Jenazah Berhasil Diidentifikasi
15 Bank Rontok, OJK Bongkar Penyebab hingga Mekanisme Pengembalian Dana Nasabah
25 Tahun Farmasi UMI Menjaga Jejak Keilmuan dan Menatap Masa Depan