Perebutan Lahan Memanas, Bentrokan Massa di Panakkukang Lumpuhkan Arus Lalu Lintas

photo author
Syamsir Anchi, Metro Selebes
- Senin, 27 Juli 2026 | 16:37 WIB
Bentrokan diduga akibat sengketa lahan di Panakkukang, Makassar, menyebabkan korban luka, kerusakan kendaraan, dan melumpuhkan akses. (Dok.instagram@lintasmakassar)
Bentrokan diduga akibat sengketa lahan di Panakkukang, Makassar, menyebabkan korban luka, kerusakan kendaraan, dan melumpuhkan akses. (Dok.instagram@lintasmakassar)

Inti berita:

• Sengketa kepemilikan lahan di Panakkukang, Makassar, memicu bentrokan antarkelompok belakangan ini hingga menyebabkan korban luka, kerusakan fasilitas, dan sempat melumpuhkan arus lalu lintas di Jembatan Abdullah Daeng Sirua.

 

MetroSelebes.com, MAKASSAR - Ketegangan yang semula dipicu sengketa kepemilikan lahan berubah menjadi bentrokan terbuka yang mengguncang Kecamatan Panakkukang, Makassar. Selama empat hari berturut-turut, dua kelompok yang berselisih terlibat aksi saling serang di kawasan Jalan Prof. Abdurrahman Basalamah hingga meluas ke Jembatan Abdullah Daeng Sirua (Abdesir), mengakibatkan korban luka, kerusakan sejumlah fasilitas, serta mengganggu aktivitas dan arus lalu lintas warga.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, perselisihan dipicu oleh klaim kepemilikan atas lahan yang diperebutkan oleh tiga kelompok. Ketegangan disebut mulai meningkat setelah salah satu pihak membangun pagar di lokasi sengketa. Langkah tersebut memicu reaksi dari kelompok lain hingga berujung aksi saling lempar batu, penggunaan busur panah, serta bentrokan yang berulang sejak Kamis (23/7/2026) dini hari.

Baca juga: Api Melalap Bangunan di Menteng, Polisi Dalami Penyebab Bentrokan yang Berujung Kebakaran 

Kasi Humas Polrestabes Makassar, Kompol Wahiduddin, membenarkan insiden tersebut. Ia menjelaskan bahwa pada bentrokan awal, satu unit gubuk dan pagar pembatas dilaporkan terbakar, sementara petugas turut mengamankan sejumlah anak panah dan ketapel yang diduga digunakan dalam aksi bentrokan. Polisi juga mengimbau seluruh pihak menahan diri dan tidak melakukan tindakan yang dapat memperkeruh situasi.

Meski sempat mereda, bentrokan kembali terjadi pada Jumat hingga Sabtu dini hari. Puncaknya berlangsung pada Minggu (26/7/2026) sore ketika massa dari kedua kubu kembali berkumpul dan bentrok di sekitar Jembatan Abdullah Daeng Sirua. Kondisi itu menyebabkan arus lalu lintas sempat lumpuh karena pengendara memilih memutar arah demi menghindari lokasi konflik.

Baca juga: Basarnas Siap Cari Ulang Korban KM Nurul Salsa Jika Ada Informasi Valid 

Kanit Reskrim Polsek Panakkukang, Iptu Uji Mughni, mengatakan petugas di lapangan berupaya membubarkan massa, namun jumlah warga yang terlibat cukup banyak sehingga situasi sulit dikendalikan. "Satu unit sepeda motor terbakar dan dua mobil mengalami kerusakan akibat lemparan batu. Kami juga masih mendata korban yang menjalani perawatan setelah terkena busur panah," ujarnya.

Di sisi lain, sengketa lahan yang menjadi akar persoalan masih menunggu penyelesaian melalui mekanisme hukum. Hingga kini masing-masing pihak tetap mempertahankan klaim kepemilikan atas objek sengketa, sementara aparat memilih mengedepankan langkah persuasif agar konflik tidak kembali meluas. Polisi juga belum menyampaikan kesimpulan mengenai pihak yang paling berhak atas lahan tersebut.

Baca juga: Semarak Dies Natalis ke-65 UNM, Rahman Pina Dorong Kolaborasi Kampus dan Daerah Bangun SDM Unggul

Memasuki Senin (27/7/2026), situasi di lokasi berangsur kondusif dengan pengamanan yang masih diperketat oleh personel gabungan. Kepolisian bersama Pemerintah Kecamatan Panakkukang berencana mempertemukan seluruh pihak yang bersengketa untuk mencari jalan keluar secara damai, sembari memastikan proses penegakan hukum tetap berjalan terhadap setiap dugaan tindak pidana yang terjadi selama bentrokan. (*)

(Fir/Ade)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Syamsir Anchi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X