Inti berita:
• Peternak Rakyat Sulawesi menggelar aksi damai dengan membagikan ayam dan telur gratis di Makassar sebagai simbol krisis akibat harga telur yang anjlok hingga Rp20.000-Rp21.000 per kilogram, sementara biaya pakan dan jagung tetap tinggi.
METROSELEBES.com, MAKASSAR – Ratusan ayam hidup mendadak berpindah tangan di tengah padatnya arus Jalan Andi Pangerang (AP) Pettarani, Makassar. Bukan karena bazar atau kegiatan promosi, ayam-ayam tersebut sengaja dibagikan cuma-cuma oleh peternak sebagai bentuk protes atas kondisi usaha yang mereka nilai semakin sulit dipertahankan.
Aksi tersebut digelar Peternak Rakyat Sulawesi di depan kantor sementara DPRD Sulawesi Selatan sebelum massa bergerak menuju Kantor Gubernur Sulsel di Jalan Urip Sumoharjo. Selain ayam hidup, peternak juga membagikan telur kepada pengguna jalan sebagai simbol keresahan terhadap anjloknya harga komoditas peternakan.
Koordinator aksi menyebut pembagian ayam secara gratis menjadi pilihan terakhir setelah para peternak mengaku mengalami kerugian selama sekitar empat bulan. Modal yang semakin terkuras membuat sebagian peternak kesulitan menyediakan pakan untuk ayam mereka. “Lebih baik kami sedekahkan langsung kepada masyarakat daripada ayam-ayam ini mati kelaparan di kandang karena kami sudah kehabisan modal untuk membeli pakan,” ujar salah satu perwakilan peternak.
Di tingkat peternak, harga telur disebut telah turun hingga kisaran Rp20.000-Rp21.000 per kilogram. Peternak menilai harga tersebut berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang menjadi salah satu rujukan pemerintah dalam menjaga keseimbangan harga komoditas. Kondisi itu semakin berat karena biaya produksi justru meningkat, terutama akibat harga pakan pabrikan dan jagung yang masih tinggi.
Baca juga: Tampil Jirai-Kei Serba Pink, Wanita di Jepang Ini Cari Pria Bersihkan Kamar Penuh Sampah
Peternak menilai ketimpangan antara harga jual dan ongkos produksi membuat usaha mandiri berada dalam posisi tertekan. Namun, persoalan tersebut tidak sepenuhnya berada dalam kewenangan pemerintah daerah. Sejumlah kebijakan yang diminta peternak, seperti pengendalian harga pakan, pengaturan bahan baku dan kebijakan impor, hingga evaluasi HAP, berkaitan dengan kebijakan pemerintah pusat.
Keluhan itu kemudian mendapat ruang dialog di tingkat daerah. Di DPRD Sulsel, massa diterima Sekretaris Komisi B Bidang Perekonomian, Zulfikar Limolang, bersama sejumlah anggota dewan. Selanjutnya, saat peternak mendatangi Kantor Gubernur Sulsel, perwakilan Pemprov yang dipimpin Asisten I Setda Sulsel bersama jajaran organisasi perangkat daerah menerima tujuh poin tuntutan yang disampaikan massa.
Baca juga: Bukan Insinerator, Sampah Makanan Bisa Jadi Listrik: Gagasan Reaktor Biogas Mini untuk Kota Makassar
Pemprov Sulsel menyatakan akan meneruskan tuntutan tersebut kepada kementerian terkait di Jakarta, mengingat sebagian persoalan berada pada ranah kebijakan pusat. Bagi peternak, aksi membagikan ayam dan telur gratis bukan sekadar bentuk protes, melainkan pesan bahwa jika harga jual terus tertekan sementara biaya produksi tidak turun, keberlangsungan peternakan rakyat di Sulsel ikut berada di ujung tanduk. (*)
(Fir/Ade)