“Secara politis ini menguntungkan Pak Jokowi. Nama Pak Jokowi itu harus beredar, dari sisi itu bagus. Ini bagian dari permainan politik yang canggih menurut saya,” ujar Mahfud. Namun, tafsir tersebut merupakan analisis Mahfud dan tidak dapat dianggap sebagai konfirmasi bahwa Jokowi memang sedang menjalankan skenario politik tertentu.
Di sisi lain, sorotan Mahfud terhadap Prabowo lebih berkaitan dengan kinerja pemerintahan. Ia menilai turunnya kepuasan publik harus menjadi alarm bagi pemerintah untuk memperbaiki tata kelola. Meski begitu, Mahfud mengakui adanya sejumlah langkah Prabowo yang dinilainya positif, termasuk evaluasi program Makan Bergizi Gratis dan kesediaan pemerintah merespons kritik.
Baca juga: Kiai Said Aqil Dua Jempol untuk Miftachul Akhyar, Kembali Pimpin Syuriah PBNU 2026-2031
Ujung dari semua persoalan itu, bagi Mahfud, berada pada satu kata: kepercayaan. RUU Perampasan Aset harus dibuktikan melalui substansi yang kuat, dinamika politik harus dibaca tanpa buru-buru menuduh, sedangkan pemerintahan Prabowo dituntut menunjukkan hasil nyata.
Di tengah persiapan menuju pertarungan politik berikutnya, publik pada akhirnya tidak hanya membutuhkan janji, tetapi juga bukti bahwa hukum dan pemerintahan bekerja untuk kepentingan masyarakat. (*)
(Ram/Sam)