Gempa Besar Guncang Kumamoto, Jepang Berjuang Pulihkan Dampak, BMKG Pastikan Indonesia Aman dari Ancaman Tsunami

photo author
Syamsir Anchi, Metro Selebes
- Selasa, 28 Juli 2026 | 20:47 WIB
Menyoroti fakta terkini ihwal bencana gempa bumi magnitudo 7,1 di wilayah Kumamoto, Jepang, pada Selasa, 28 Juli 2026. (Instagram.com/@infogempadunia)
Menyoroti fakta terkini ihwal bencana gempa bumi magnitudo 7,1 di wilayah Kumamoto, Jepang, pada Selasa, 28 Juli 2026. (Instagram.com/@infogempadunia)

Inti berita:

• Gempa magnitudo 7,1 yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang, menyebabkan kerusakan infrastruktur dan puluhan korban luka. s

BMKG memastikan peristiwa tersebut tidak berpotensi memicu tsunami yang berdampak ke wilayah Indonesia.

 

MetroSelebes.com, JEPANG - Pagi yang semula berjalan normal di Pulau Kyushu mendadak berubah menjadi kepanikan ketika bumi berguncang kuat di Prefektur Kumamoto, Jepang, Selasa (28/7/2026). Warga berhamburan keluar rumah dan gedung, sementara sirene peringatan tsunami sempat dibunyikan sebelum akhirnya dicabut setelah situasi dinilai lebih terkendali.

Gempa bermagnitudo 7,1 tersebut memicu kerusakan di sejumlah wilayah. Laporan media Jepang menyebut beberapa bangunan mengalami keruntuhan, kebakaran dilaporkan terjadi di sejumlah titik, dan akses transportasi ikut terganggu setelah sebagian struktur jembatan layang di Jalan Tol Kyushu mengalami kerusakan. Sebuah pusat perbelanjaan AEON di Kota Kashima juga dilaporkan terdampak hingga menyebabkan kepanikan pengunjung.

Baca juga: Pompa Air Bantuan Kembali ke Gudang, DPK LINK HAM RI Desak Inspektorat Bulukumba Usut Dugaan Penyimpangan Program Pertanian

Di tengah proses evakuasi, rumah sakit di wilayah terdampak menerima puluhan korban luka. Lembaga penyiaran NHK melaporkan sedikitnya 12 rumah runtuh dan sejumlah warga masih sempat terjebak di bawah puing bangunan sebelum proses penyelamatan dilakukan. Gangguan pasokan listrik juga dilaporkan memengaruhi sekitar 40 ribu rumah di Pulau Kyushu sehingga layanan kereta api dan beberapa operasional bandara ikut terdampak.

Pemerintah Jepang sebelumnya mengeluarkan peringatan potensi tsunami setinggi satu meter sebagai langkah antisipasi. Namun setelah pemantauan lanjutan, peringatan tersebut resmi dicabut. Meski demikian, otoritas tetap mengimbau masyarakat di wilayah terdampak agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan.

Baca juga: IAS Pertanyakan Dasar Klaim KMPTN di Lahan Eks Hotel Tanjung Bunga: Objek Putusan Dinilai Berbeda 

Di Indonesia, kabar gempa besar itu sempat memunculkan kekhawatiran masyarakat mengenai potensi dampaknya terhadap wilayah Nusantara. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kemudian melakukan analisis cepat melalui pemodelan tsunami untuk memastikan tingkat ancaman yang mungkin terjadi.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menegaskan hasil analisis menunjukkan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami yang berdampak ke Indonesia. "Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami di wilayah Indonesia," ujar Wijayanto dalam keterangan tertulis. Ia menjelaskan gempa merupakan gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif dengan mekanisme pergerakan patahan geser (strike slip).

Baca juga: Mega Proyek Gas Rp211 Triliun di Selat Makassar Resmi Dimulai, SKK Migas Sebut Jadi Pengungkit Ketahanan Energi Nasional 

Hingga Selasa malam, BMKG masih mencatat satu gempa susulan berkekuatan magnitudo 6,3 di kawasan Kumamoto. Sementara itu, fokus pemerintah Jepang kini diarahkan pada proses evakuasi, penanganan korban, pemulihan infrastruktur, serta pemantauan aktivitas seismik guna mengantisipasi kemungkinan gempa susulan yang masih dapat terjadi. (*)

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Syamsir Anchi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X