“Di samping Pondok Wahyu. Satu kosan sama Nua (Anwar),” kenangnya saat menjalani proses, namun semua itu menjadi tempaan untuk tetap bertahan dan tumbuh di tengah kesulitan dan keterbatasan.
Buktinya, sejak bergeser ke SMPN 42 Makassar, sekolah tersebut perlahan mulai mendapatkan perhatian. Papan nama sekolah yang sebelumnya masih menggunakan nama Sekolah Satu Atap (Satap) kini telah berubah menjadi UPTD SPF SMPN 42 Makassar.
Baca juga: Peringatan HKAN 2026 Tingkat Sulsel, Pemkab Soppeng Tegaskan Komitmen Jaga Kelestarian Lingkungan
Harapan terhadap dukungan pemerintah pun mulai tumbuh. Laode optimistis bantuan dari pemerintah pusat maupun daerah segera hadir untuk mendorong peningkatan kualitas pendidikan di sekolah tersebut.
Apalagi, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Makassar, Dr. Roem, bahkan menyebut kawasan sekolah tersebut sebagai “sekolah terindah di Makassar” dan telah mempublikasikannya melalui Instagram.
Namun, di balik keindahan alam yang menjadi latar sekolah, masih ada kebutuhan mendasar yang mendesak untuk dipenuhi.
Baca juga: Gus Miftah Minta Nama Istana Tak Dijadikan Senjata di Muktamar NU ke-35
Salah satunya adalah panel surya sebagai sumber listrik. Ketersediaan listrik menjadi kebutuhan penting agar kegiatan administrasi sekolah maupun proses pembelajaran dapat berjalan secara normal.
Selain listrik, akses internet juga menjadi kebutuhan utama. Kabar baiknya, Kepala Dinas Kominfo Makassar disebut telah menjanjikan bantuan Starlink untuk mendukung konektivitas internet di sekolah tersebut.
“Bantuan yang paling dibutuhkan itu panel surya untuk listrik, karena aktivitas kantor dan pembelajaran tidak bisa berjalan normal tanpa listrik. Juga bantuan jaringan internet. Pak Kadis Kominfo sudah menjanjikan bantuan Starlink. Semoga bisa segera terealisasi,” kata Laode.
Baca juga: Artefak Leluhur Berhasil Dipulangkan, Indonesia Perkuat Pertahanan Kedaulatan Budaya
Kisah Laode Iman Sutrisno mungkin tidak banyak terdengar. Tidak ada ruang kantor yang representatif, tidak ada fasilitas mewah, bahkan meja kerjanya pun harus dibawa keluar masuk kelas.
Tetapi justru dari tempat sederhana itulah sebuah pengabdian tumbuh. Tekad dan komitmen diuji dari keterbatasan.
Ia memilih bertahan, tinggal di pulau selama berhari-hari dan menjalankan tugas dengan fasilitas seadanya. Di tengah laut, keterbatasan listrik dan akses internet, Laode bersama para pendidik lainnya terus menjaga agar denyut pendidikan tetap berjalan.
Baca juga: Bukan Insinerator, Sampah Makanan Bisa Jadi Listrik: Gagasan Reaktor Biogas Mini untuk Kota Makassar