Inti berita:
• Manajemen sekolah membantah ratusan senjata angin yang ditemukan di lingkungan sekolah digunakan untuk ekskul menembak.
• Polisi menyelidiki alasan penyimpanan serta legalitas kepemilikannya setelah pemilik awal meninggal.
METROSELEBES.com, JAKARTA -- Suasana di lingkungan sekolah itu berubah sejak ratusan senjata angin ditemukan tersimpan di dalam area pendidikan. Di tengah polemik mengenai asal-usul dan tujuan penyimpanannya, muncul alasan bahwa senjata tersebut merupakan bagian dari inventaris untuk mendukung kegiatan ekstrakurikuler menembak bagi siswa. "Senjata api diperuntukkan kegiatan ekstrakurikuler siswa," ujar Alhadid Endar Putra. Namun, klaim itu justru memunculkan pertanyaan baru karena pihak manajemen sekolah saat ini menyatakan tidak pernah memiliki program tersebut.
Keterangan mengenai “ekskul menembak” sebelumnya disampaikan dari pihak mantan pengurus yayasan. Ratusan senjata angin disebut sengaja disimpan sebagai inventaris yang dipersiapkan untuk kegiatan ekstrakurikuler siswa. Dalih tersebut kemudian menjadi salah satu bagian yang ikut diperiksa dalam rangkaian penyelidikan atas keberadaan senjata di lingkungan sekolah.
Manajemen sekolah yang aktif saat ini membantah keterangan tersebut. Pihak sekolah menegaskan, sejak lembaga pendidikan itu berdiri hingga sekarang, tidak pernah terdapat agenda maupun program ekstrakurikuler menembak bagi para siswa. Bantahan ini membuat alasan penyimpanan ratusan senjata tersebut masih menjadi tanda tanya dan membutuhkan penjelasan lebih lanjut dari pihak yang sebelumnya menguasai inventaris tersebut.
"Tidak pernah ada kegiatan ekstrakurikuler latihan menembak sejak sekolah ini resmi berdiri," terang Untung Sangaji membantah kabar yang beredar terkait penemuan 955 senpi.
Di sisi lain, kepolisian telah menerbitkan Laporan Polisi Model A untuk mendalami perkara tersebut. Penyidik berencana memeriksa mantan ketua yayasan berinisial IW guna menggali alasan senjata-senjata itu berada di lingkungan sekolah, termasuk mengapa penyimpanannya tidak dilakukan di gudang resmi milik perusahaan yang berkaitan dengan proses impor senjata tersebut.
Pemeriksaan juga diarahkan pada aspek legalitas kepemilikan senjata setelah pemilik aslinya, DS, meninggal dunia pada 2020. Polisi tengah menelusuri bagaimana status dan penguasaan senjata tersebut setelah pemiliknya wafat, termasuk prosedur yang semestinya dilakukan terhadap senjata api organik maupun nonorganik ketika pemegang hak atau pemiliknya meninggal.
Dari sisi manajemen sekolah, keberadaan ratusan senjata itu disebut tidak dapat dikaitkan begitu saja dengan kegiatan pendidikan tanpa adanya bukti program resmi. Bantahan mengenai ekskul menembak menjadi penting karena menyangkut alasan mengapa senjata dalam jumlah besar berada di lingkungan sekolah. Sementara itu, pihak mantan yayasan tetap memiliki ruang untuk memberikan penjelasan mengenai dasar penyimpanan dan tujuan inventarisasi tersebut.