Inti berita:
• Perubahan perilaku dan temuan memar pada tubuh Aqib menjadi awal kecurigaan keluarga.
• Polisi masih menyelidiki dugaan perundungan serta memastikan rangkaian peristiwa yang dialami korban.
METROSELEBES.com, PEMALANG – Perubahan kecil di rumah ternyata menjadi awal kecurigaan keluarga terhadap kondisi MHAA alias Aqib, siswa SDN 01 Kebondalem Pemalang yang meninggal dunia setelah menjalani perawatan di rumah sakit.
Sebelum kondisinya memburuk, Aqib disebut mengalami perubahan perilaku. Diah Indriyanti, ibu korban, mengatakan anaknya yang semula ceria dan aktif mulai terlihat berbeda, termasuk dalam hal makan, minum dan cara berinteraksi dengan keluarga.
“Dia sehat, ceria, sering bantu orang tua. Dia juga anaknya rajin mengaji, salat, enggak pernah main ke mana-mana, cuma main ke rumah mbah,” kata Diah dalam podcast di kanal YouTube Curhat Bang Denny Sumargo, dikutip Selasa, 6 Oktober 2026.
Baca juga: Jangan Asal Pilih Oli Motor Matic, Tiga Kode Ini Wajib Dicek Sebelum Membeli
Kecurigaan keluarga kemudian mengarah pada kondisi fisik Aqib. Sang nenek disebut lebih dulu melihat perubahan pada cucunya, mulai dari nafsu makan yang menurun hingga tubuh yang terlihat lemas. Saat diperhatikan lebih lanjut, terdapat memar pada bagian perut korban.
Diah mengaku sempat menanyakan kondisi tersebut kepada putranya. Namun, Aqib justru menunjukkan ekspresi ketakutan. Tidak lama setelah itu, ia mengeluhkan sakit perut sehingga keluarganya membawa korban untuk mendapatkan pemeriksaan medis.
Baca juga: Bansos Tahap 4 Dibuka, Warga Bisa Usulkan PKH dan BPNT Lewat Portal Perlinsos
Menurut Diah, dokter yang menangani Aqib menyampaikan bahwa tidak ditemukan riwayat penyakit sebelumnya dan kondisi pada perut korban disebut menyerupai dampak pukulan. Ketika ditanya dokter, Aqib kemudian mengaku memar tersebut berkaitan dengan tindakan kakak kelasnya. Keterangan ini menjadi bagian dari informasi yang kini perlu diuji melalui penyelidikan aparat.
Aqib meninggal dunia pada 30 September 2026 setelah menjalani perawatan selama delapan hari di RSUD dr. M. Ashari Pemalang. Sementara itu, Satreskrim Polres Pemalang masih mendalami dugaan perundungan tersebut dengan memeriksa sejumlah pihak, termasuk pihak sekolah dan terduga pelaku.
Baca juga: Kemenag dan Baznas Makassar Siapkan Hari Santri 2026, Tak Ingin Berhenti pada Seremoni
Artikel Terkait
Rekor Kelam Marc Marquez di Mandalika, Kini Saatnya Mengubah Cerita
Jangan Asal Pilih Oli Motor Matic, Tiga Kode Ini Wajib Dicek Sebelum Membeli
Marc Marquez Punya Dua Modal di Mandalika, Putus Catatan Buruk Jadi Target Utama
Tak Sekadar Pemilu, CPCD Unhas dan CSIS Bidik Tantangan Demokrasi dari Tingkat Lokal
Kemenag dan Baznas Makassar Siapkan Hari Santri 2026, Tak Ingin Berhenti pada Seremoni