ekonomi-bisnis

Bukan Insinerator, Sampah Makanan Bisa Jadi Listrik: Gagasan Reaktor Biogas Mini untuk Kota Makassar

Senin, 10 Agustus 2026 | 21:24 WIB
Gagasan reaktor biogas mini berbahan sampah makanan ditawarkan alternatif PSEL untuk menghasilkan listrik, pupuk, lapangan kerja, dll .(Dok.Threads@kilas_makassar)

Inti berita:

• Gagasan reaktor biogas mini di berbagai sudut kota menawarkan pengolahan sampah makanan menjadi listrik untuk pengecasan kendaraan listrik.

• Sementara slurry dapat dimanfaatkan sebagai pupuk, sehingga berpotensi menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi sirkular.

 

METROSELEBES.com, MAKASSAR — Di tengah tumpukan sampah makanan yang setiap hari berakhir di tempat pembuangan, muncul gagasan sederhana: bagaimana jika sampah organik itu tidak dibakar, tetapi diolah menjadi sumber energi?

Gagasan tersebut menjadi alternatif di tengah rencana pemerintah mempercepat proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di sejumlah daerah, termasuk Makassar, yang mendapat sorotan dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi). Walhi menilai PSEL berbasis insinerator bukan jawaban tunggal atas persoalan sampah karena berpotensi menghadirkan persoalan baru, mulai dari emisi, abu hasil pembakaran hingga beban pembiayaan jangka panjang.

Baca juga: Foto Jessica Mila di Pulau Padar Viral, Pelaku Wisata Labuan Bajo Kelimpungan Hadapi Komplain Trip Batal 

Sebagai alternatif, pengolahan sampah organik dapat diarahkan melalui pembangunan reaktor biogas mini di berbagai titik kota. Sistem ini memanfaatkan sampah makanan dari rumah tangga, restoran, pasar, maupun pusat kuliner sebagai bahan baku untuk menghasilkan biogas melalui proses penguraian tanpa oksigen.

Biogas yang dihasilkan selanjutnya dapat dimurnikan dan dikonversi menjadi energi listrik. Dalam skala lokal, listrik tersebut dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan fasilitas umum maupun stasiun pengisian kendaraan listrik, sehingga sampah tidak sekadar dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, tetapi diubah menjadi sumber energi terbarukan di dekat titik produksinya.

Baca juga: Lima Posisi Strategis di Polres Maros Berganti, Kapolres Minta Pejabat Baru Tancap Gas Layani Warga 

Tak berhenti pada energi, proses tersebut juga menghasilkan sisa pengolahan atau slurry yang masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk setelah melalui pengolahan dan pengujian yang sesuai. Pola ini membuka peluang terbentuknya rantai ekonomi baru yang melibatkan pengelola sampah, operator reaktor, petani, pelaku usaha, hingga masyarakat sekitar.

Pengkampanye Urban Berkeadilan Eksekutif Nasional Walhi, Wahyu Eka Styawan, sebelumnya menegaskan bahwa pemerintah perlu mengutamakan pendekatan hulu melalui konsep Zero Waste. "Anggaran besar yang disiapkan untuk PSEL lebih baik diarahkan untuk memperkuat pemilahan sampah, TPS3R, pengomposan, bank sampah, serta sektor informal persampahan," ujar Eka Styawan.

Baca juga: Bukan Sekadar Cuci Tangan, GERTAS KKN Unhas Bentuk Kebiasaan Sehat Siswa SD di Tellu Boccoe 

Di sisi lain, gagasan reaktor biogas mini dapat menjadi bagian dari pendekatan tersebut, bukan sekadar pengganti teknologi PSEL. Jika dirancang dengan pemilahan yang ketat, standar keselamatan, kajian lingkungan, pengawasan publik, serta skema pengelolaan yang transparan, sistem ini berpotensi mengurangi sampah organik sekaligus menciptakan pekerjaan, menghasilkan energi terbarukan, dan menggerakkan ekonomi lokal. Tantangannya adalah memastikan teknologi, biaya operasional, keamanan, serta kualitas hasil olahan benar-benar teruji sebelum diterapkan secara luas. (*)

Halaman:

Tags

Terkini