pendidikan

Pengabdian Sunyi Laode Iman Sutrisno, Menyalakan Harapan di Sekolah Pulau Terpencil Makassar

Kamis, 13 Agustus 2026 | 14:20 WIB
Pengabdian sunyi Kepsek SMPN 42 Makassar, Laode Imam Sutrisno, S.Pd., M.Pd., tetap semangat mengabdi di ujung Pulau Kota Makassar. (Dok.MetroSelebes.com)

Inti berita:

• Pengabdian sunyi Kepsek SMPN 42 Makassar, Laode Iman Sutrisno, S.Pd., M.Pd., tetap semangat mengabdi di ujung Pulau Kota Makassar, dan di tengah serba keterbatasan, ia bertahan.

 

METROSELEBES.com, MAKASSAR — Ombak berkejaran di belakang sekolah, sementara angin laut leluasa menerobos kawasan pelosok yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Di tengah keterbatasan fasilitas dan sulitnya akses transportasi, Laode Iman Sutrisno, S.Pd., M.Pd., memilih tetap bertahan untuk mengabdi. Ia menjalani hari-harinya di sebuah sekolah yang hanya memiliki dua ruang kelas, tanpa ruang guru maupun ruang kepala sekolah, dengan jumlah siswa hanya 20 orang.

Pengabdian sunyi itu terasa kontras dengan pengalamannya saat memimpin SMPN 12 Kota Makassar di PK 8, Kompleks Perumahan Dosen Unhas, Tamalan Jaya, selama bertahun-tahun. Meski demikian, ia tetap bersyukur. Baginya, patuh kepada atasan dan siap menjalani tugas pengabdian merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai seorang pendidik. Kini, ia mengabdi di UPTD SPF SMPN 42 Makassar, sekolah yang berada di kawasan Pulau Bonetambu, Kelurahan Barrang Caddi, Kecamatan Sangkarrang, Kota Makassar. Untuk mencapai sekolah tersebut, perjalanan menggunakan kapal menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas pengabdiannya.

Baca juga: Silatnas I KRKB Karaeng Poddo Daeng Manarang Pererat Jejaring Keluarga di Kajang 

Ketika ditanya apakah bolak-balik tiap hari untuk menjalankan tugas, ia mengatakan lebih banyak waktunya di Pulau. “Harus tinggal karena kapalnya itu satu kali satu hari. Saya biasanya tiga sampai empat hari di pulau, kecuali ada kegiatan dinas di kota,” tutur Laode Iman Sutrisno kepada MetroSelebes.com, Kamis (13/8/2026).

Tetap Mengabdi di Tengah Keterbatasan 

FOTO: Tampak gedung dan papan nama SMPN 42 Makassar masih menggunakan SATAP, meski status sudah berubah. (Dok.MetroSelebes.com)

Kondisi sekolah yang masih sangat terbatas membuat aktivitas belajar mengajar sekaligus administrasi sekolah harus dilakukan dengan cara sederhana. Tidak tersedia kantor, ruang guru maupun ruang kepala sekolah.

Bahkan, Laode harus menyulap koridor atau teras sekolah menjadi ruang kerjanya. Sebuah meja dan kursi dikeluarkan untuk digunakan sebagai tempat “berkantor”. Setelah kegiatan sekolah selesai, meja dan kursi tersebut kembali dimasukkan ke dalam ruang kelas.

Baca juga: Henry Sumurung Raih Doktor IPB, Teliti Alasan Gen Z Tak Loyal pada Satu Dompet Digital

“Saya kasih keluar meja sama kursi di koridor (teras) untuk berkantor. Kalau pulang sekolah, saya kasih masuk lagi ke kelas,” ujarnya, diselingi tawa.

Kisah pengabdian itu semakin menarik karena Laode sempat tinggal di Pondok Pasompe saat kuliah dulu di kampus merah. Di tempat tersebut, ia bertetangga dengan Prof. Jamaluddin Jompa, Rektor Universitas Hasanuddin saat ini, yang tinggal di Pondok Eksekutif, serta Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian, yang berada di Pondok Indah, tetangga Pondok Hidayatullah.

Halaman:

Tags

Terkini