Baca Juga: Tersisih dari Timnas, Witan Sulaeman Tak Pernah Hilang dari Hati Penggemar
Meski memiliki darah Aceh dari garis keturunan, Verdonk mengakui belum fasih berbahasa Indonesia. Namun, ia menunjukkan usaha keras untuk memahami budaya dan bahasa Indonesia, termasuk dengan belajar dari rekan-rekan setim di Timnas.
“Saya ingin bisa bicara lebih baik, ini penting untuk komunikasi dan juga untuk menunjukkan rasa hormat pada negara yang saya bela,” ujar Verdonk dalam sebuah wawancara.
Meskipun nyaman di NEC, Verdonk menyimpan ambisi untuk tampil di liga-liga besar seperti Bundesliga, Serie A, bahkan Premier League. Ia menyadari bahwa kompetisi di liga-liga tersebut sangat berat, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk mencoba.
Baca Juga: Viktor Gyökeres: Bukti bahwa Kesempatan Kedua Bisa Mengubah Segalanya
“Saya siap untuk tantangan yang lebih besar. Tapi untuk sekarang, saya ingin terus berkembang dan memberikan yang terbaik di mana pun saya bermain,” katanya.
Calvin Verdonk bukan hanya seorang pesepakbola, tetapi juga representasi dari seorang atlet profesional yang tidak haus sorotan. Ia adalah contoh bagaimana kerja keras dan konsistensi bisa membentuk reputasi tanpa harus mempromosikan diri secara berlebihan.
Dan mungkin itulah yang membuat Verdonk begitu spesial—ia tetap menjadi misteri, bahkan bagi para penggemarnya.