Tragedi ini akhirnya menjadi pengingat bahwa konflik rumah tangga, termasuk persoalan poligami maupun perpecahan keluarga, seharusnya tidak menempatkan anak sebagai pelindung, pembela, atau alat dalam pertarungan emosional orang dewasa.
Baca juga: Ironi Pelabuhan Pamatata: Terminal Atas Mulai Digital, Ruang Tunggu Bawah Justru Rusak dan Kotor
Satu peristiwa telah meninggalkan kehilangan bagi keluarga korban sekaligus masa depan yang berubah bagi seorang remaja. Karena itu, pencegahan sejak dini melalui komunikasi, pendampingan keluarga, dan akses terhadap bantuan psikologis menjadi bagian penting agar luka batin anak tidak berubah menjadi tragedi baru. (*)
(Has/Man)
Artikel Terkait
Asrama Kodam Mattoanging Makassar Terbakar, 23 Rumah Hangus dan 26 KK Terdampak
Rachmatika Dewi Tinggalkan Rapat Paripurna, Pilih Temui BEM UNM dan Dengarkan Aspirasi Mahasiswa
8 WNI Disebut Masuk Tentara Rusia, Dasco Ungkap Modus Iming-iming Gaji Besar
Dua Tahun Jadi Buronan, Mantan Bupati Minahasa Utara Ditangkap di Rumah Sakit Timika
293 Santri Sidoarjo Dilarikan ke 8 Rumah Sakit usai Santap MBG, Bupati Turun Tangan Cek SPPG