METRO SELEBES.COM - Berpuasa pada tanggal 10 Muharram mengingatkan kita bahwa dunia selalu dihuni oleh orang-orang baik dan juga oleh mereka yang jahat.
Saat Nabi Shallallahu alaihi wasallam tiba di kota al-Madinah al-Munawwarah, beliau melihat beberapa kelompok Yahudi seperti Bani Nadlir, Bani Quraizhah, Bani Qainuqa', dan Yahudi Khaybar, yang sedang berpuasa.
Ketika Nabi bertanya mengapa mereka berpuasa, mereka menjawab bahwa itu adalah hari yang memiliki makna sejarah, di mana Allah menyelamatkan Nabi Musa Alaihissalam dan Bani Israil dari Firaun yang ditenggelamkan di Laut Merah.
Baca Juga: Penerbangan Jemaah Haji Terhambat, Garuda Indonesia Alami Penundaan Lagi
Dalam kesyukuran atas peristiwa tersebut, Nabi Musa Alaihissalam dan Bani Israil berpuasa, dan hari ini, kita juga berpuasa untuk bersyukur kepada Allah atas penyelamatan Musa dan rombongannya serta peristiwa bersejarah tersebut.
Kisah ini mengajarkan bahwa perseteruan antara kebaikan dan kejahatan tidak pernah berakhir selama dunia masih ada.
Sebelum Nabi Musa Alaihissalam, ada Ibrahim yang menghadapi Namrudz dengan cara yang unik, begitu pula saat Musa berhadapan dengan Firaun. Konflik antara hak dan batil terus berlanjut dalam sejarah.
Baca Juga: KKB Kembali Bakar Sekolah di Pegunungan Bintang: Ancaman Terhadap Pendidikan Generasi Muda
Berpuasa pada tanggal 10 Muharram juga menggambarkan bahwa dalam sejarah Islam, banyak orang baik yang menghadapi berbagai tantangan.
Nabi Nuh dan Nabi Musa adalah contoh dari mereka yang memilih jalan kebenaran meskipun dihadapkan pada kesulitan.
Begitu pula dengan Aisyah Alaihisalam, yang menghadapi fitnah namun tetap diselamatkan oleh Allah.
Baca Juga: Tantri Kotak Terjatuh dari Panggung: Kejadian Tak Terduga di Konser Cianjur
Mengingatkan bahwa dalam hidup ini, kita senantiasa dihadapkan pada pilihan antara kebaikan dan kejahatan.
Sebagai umat Islam, kita diberikan dua jalan, yaitu jalan fujur (kejahatan) dan jalan taqwa (kebaikan).