politik

Presiden Serbia Vucic Tinggalkan Istana di Tengah Gelombang Demo, Kursi PM Jadi Incaran?

Senin, 28 September 2026 | 12:21 WIB
Aleksandar Vucic mundur dari Presiden Serbia di tengah gelombang demonstrasi, tetapi masih berpeluang kembali melalui kursi perdana menteri. (Dok.Instagram@drinamedia)

Inti berita:

• Aleksandar Vucic mengundurkan diri sebagai Presiden Serbia tujuh bulan sebelum masa jabatannya berakhir.

• Ia tetap memimpin SNS dan berpeluang kembali ke pemerintahan melalui pemilu parlemen yang digelar 25 Oktober 2026.

 

METRO SELEBES.com, BEOGRAD – Malam terakhir Aleksandar Vucic di Istana Kepresidenan Serbia berlangsung di tengah kerumunan pendukung yang datang membawa bendera dan meneriakkan dukungan. Beberapa menit kemudian, Vucic resmi mengakhiri masa jabatannya sebagai presiden, tujuh bulan lebih cepat dari jadwal.

Pengunduran diri yang diumumkan pada Minggu, 27 September 2026, tidak serta-merta membuat Vucic keluar dari arena politik Serbia. Ia masih memimpin Partai Progresif Serbia (SNS) dan berpeluang kembali masuk pemerintahan melalui posisi perdana menteri apabila partainya berhasil membentuk pemerintahan setelah pemilu parlemen.

Baca juga: El Nino Makin Ganas, Indonesia Dibayangi Panas Ekstrem hingga 2027

Pemilu parlemen yang dipercepat akan berlangsung pada 25 Oktober mendatang. Pertarungan tersebut mempertemukan SNS dan sekutunya dengan kelompok oposisi serta gerakan antikorupsi yang digerakkan mahasiswa. Sejumlah kelompok penantang Vucic masih belum menentukan kandidat untuk pemilihan presiden berikutnya.

“Saya telah melayani Anda dan tanah air saya, Serbia, dengan setia,” kata Vucic saat berbicara kepada para pendukungnya sebelum meninggalkan gedung kepresidenan.

Baca juga: Misteri Kematian Wakil Rektor ITB Kabanjahe, Ditemukan Tewas di Kamar Mandi, CCTV Jadi Petunjuk?

Keputusan itu datang setelah Serbia diguncang gelombang demonstrasi selama berbulan-bulan. Aksi protes bermula setelah kanopi sebuah stasiun kereta di Novi Sad runtuh pada November 2024 dan menewaskan 16 orang. Demonstran menuntut pertanggungjawaban, transparansi pengadaan pemerintah, serta penanganan dugaan korupsi.

Tekanan terhadap pemerintahan Vucic kemudian semakin besar setelah kelompok hak asasi manusia menuduh pemerintah dan para sekutunya melakukan tindakan represif terhadap demonstran. Sejumlah peserta aksi mengaku dipukuli atau ditahan secara tidak adil. Pemerintah Serbia membantah tuduhan tersebut dan menolak tudingan bahwa kekuasaan Vucic semakin otoriter.

Baca juga: Syarat Pendidikan Gibran Kembali Digugat, Mahfud MD Soroti Cacat Moral Konstitusional 

Setelah Vucic mundur, Ketua Parlemen Ana Brnabic menjalankan tugas sebagai presiden sementara hingga presiden baru terpilih. Konstitusi Serbia mengharuskan pemilihan presiden digelar dalam waktu 90 hari. Vucic menyebut putaran pertama kemungkinan berlangsung sebelum akhir Desember.

Halaman:

Tags

Terkini

Iran Pasti akan Balas Dendam

Kamis, 2 Juli 2026 | 10:40 WIB