Kisah Jokowi-Gibran dan Pilihan Prabowo, Begini Kalkulasi Politik di Balik Pilpres 2024

photo author
Syamsir Anchi, Metro Selebes
- Rabu, 30 September 2026 | 05:25 WIB
FOTO: Tampak pasangan Prabowo-Gibran saat Pilpres 2024. Dinamika Jokowi, Gibran, dan Prabowo menjelang Pilpres 2024 kembali disorot. Sejumlah fakta dan tafsir politik muncul di balik manuvernya. (Dok.Instagram@gibran_Rakabuming)
FOTO: Tampak pasangan Prabowo-Gibran saat Pilpres 2024. Dinamika Jokowi, Gibran, dan Prabowo menjelang Pilpres 2024 kembali disorot. Sejumlah fakta dan tafsir politik muncul di balik manuvernya. (Dok.Instagram@gibran_Rakabuming)

Inti berita:

• Arif Wicaksono menilai Jokowi membutuhkan Prabowo untuk membuka jalan politik bagi Gibran.

• Klaim tersebut merupakan tafsir politik dan perlu dibedakan dari fakta serta pernyataan resmi Jokowi.

 

METROSELEBES.com, JAKARTA — Pilpres 2024 menyisakan satu simpul politik yang hingga kini masih kerap dibaca dari berbagai sudut: bagaimana Joko Widodo akhirnya berada di barisan Prabowo Subianto, sementara putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, justru menjadi pasangan calon wakil presiden.

Pegiat politik, sosial, dan ekonomi Arif Wicaksono kembali menyoroti keputusan tersebut. Ia menilai posisi Jokowi saat itu berkaitan erat dengan kepentingan politik agar Gibran dapat maju dalam kontestasi nasional. Pandangan itu disampaikan Arif melalui akun X pribadinya. "Jokowi butuh Prabowo. Itu kenyataannya. Mau ke Anies? Gengsi. Mau ke Ganjar? Dipecat dari PDIP," tulis Arif, dikutip Selasa (29/9/2026).

Baca juga: Rocky Gerung Soroti Verifikasi Ijazah Gibran, Begini Penjelasan KPU 

Peta politik ketika itu memang mempertemukan Jokowi dengan situasi yang tidak sederhana. PDIP telah mengusung Ganjar Pranowo sebagai calon presiden, sementara Anies Baswedan maju bersama Muhaimin Iskandar. Di sisi lain, Prabowo akhirnya berpasangan dengan Gibran setelah putusan Mahkamah Konstitusi terkait syarat usia calon wakil presiden membuka jalan bagi pencalonan tersebut.

Namun, narasi bahwa Jokowi "terpaksa" memilih Prabowo merupakan tafsir politik Arif, bukan fakta yang secara resmi dinyatakan Jokowi. Pada Oktober 2023, Jokowi justru menyatakan dirinya mendukung seluruh pasangan calon untuk kepentingan negara dan menyebut Anies-Muhaimin, Ganjar-Mahfud, maupun Prabowo sebagai pasangan yang cocok.

Baca juga: Prabowo-Megawati Bertemu di Tengah Duka, PDIP Tegaskan Tak Ada Agenda Politik 

Hubungan Jokowi dengan PDIP kemudian berubah tajam setelah Pilpres 2024. PDIP menegaskan Jokowi dan Gibran tidak lagi menjadi kader partai setelah dinilai telah berpihak kepada Prabowo-Gibran. Ketua Bidang Kehormatan DPP PDIP Komarudin Watubun menyebut Jokowi sudah berada "di sebelah sana", sementara laporan Reuters mencatat keduanya tidak lagi berstatus sebagai anggota PDIP.

Hasil akhirnya memperlihatkan Prabowo-Gibran meraih 96.214.691 suara atau 58,59 persen, disusul Anies-Muhaimin dengan 24,95 persen dan Ganjar-Mahfud sekitar 16,46 persen. Prabowo-Gibran kemudian ditetapkan sebagai pasangan terpilih dan dilantik pada 20 Oktober 2024.

Baca juga: Mahfud MD Buka Suara soal Kasus Lukas Enembe, Bantah Rekayasa Politik 

Dengan demikian, perdebatan mengenai pilihan Jokowi lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari dinamika politik Pilpres 2024. Ada fakta tentang dukungan politik Jokowi kepada Prabowo-Gibran dan perubahan relasinya dengan PDIP, tetapi alasan personal maupun kalkulasi politik di balik keputusan tersebut tetap merupakan wilayah interpretasi yang perlu dibedakan dari fakta resmi di balik pertarungan Pilpres 2024. (*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Halaman:

Editor: Syamsir Anchi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Iran Pasti akan Balas Dendam

Kamis, 2 Juli 2026 | 10:40 WIB
X