Inti berita:
• Karhutla di Maros menimbulkan kekhawatiran terhadap kelestarian situs lukisan gua prasejarah.
• Kualitas udara dan operasional penerbangan terlebih dahulu terdampak.
METROSELEBES.com, MAROS – Jejak kehidupan manusia yang terukir pada dinding gua purba di Maros kini menghadapi ancaman serius. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, tidak hanya berdampak pada kualitas udara dan aktivitas penerbangan, tetapi juga memunculkan kekhawatiran terhadap kelestarian warisan prasejarah dunia.
Salah satu situs yang menjadi perhatian ialah Leang Karampuang di Desa Samangki, Kecamatan Simbang. Kawasan karst Maros-Pangkep yang menyimpan lukisan gua berusia puluhan ribu tahun itu berpotensi terdampak apabila api dan panas kebakaran menjangkau lingkungan di sekitar situs.
Baca juga: Gerak Cepat Satreskrim Polres Bulukumba Amankan 1.900 Liter Biosolar, Terduga Pemilik Diburu
Kekhawatiran muncul karena suhu tinggi, perubahan kondisi lingkungan, serta paparan asap berpotensi mengganggu kestabilan permukaan batuan dan mempercepat kerusakan material arkeologis. Pengelupasan batuan akibat panas ekstrem bahkan dapat mengakibatkan hilangnya jejak visual prasejarah yang tidak mungkin dipulihkan seperti semula.
Arkeolog Universitas Hasanuddin (Unhas), Andi Syafrullah, S.S., menilai perlindungan situs Leang Karampuang perlu menjadi perhatian di tengah ancaman karhutla yang melanda kawasan Maros.
“Lukisan prasejarah di Leang Karampuang merupakan warisan penting yang menyimpan jejak kehidupan manusia masa lalu. Karena itu, potensi dampak kebakaran terhadap situs ini perlu diantisipasi. Pemantauan kondisi gua dan langkah perlindungan harus dilakukan agar peninggalan tersebut tidak mengalami kerusakan,” ujar Andi Ulla, sapaan akrab Andi Syafrullah, Rabu (14/10/2026).
Baca juga: Gerindra Kritik Rapor Celios, Sugiat Santoso Pertanyakan Klaim 75 Persen Responden Stres
Namun, tingkat ancaman terhadap lukisan gua tersebut perlu dipastikan melalui pemeriksaan langsung oleh tim arkeologi dan konservasi. Informasi mengenai jarak api dari situs, kondisi terkini dinding gua, serta hasil pemantauan lapangan menjadi penting untuk menentukan langkah perlindungan yang tepat.
Di luar ancaman terhadap situs bersejarah, dampak karhutla juga dirasakan melalui memburuknya kualitas udara. Data yang dikutip dalam laporan awal menyebutkan konsentrasi PM2,5 di Maros telah melampaui 150 mikrogram per meter kubik. Kondisi tersebut mengindikasikan risiko kesehatan yang serius, terutama bagi anak-anak, lansia, dan masyarakat dengan gangguan pernapasan.
Baca juga: Ekspedisi Patriot Unhas Gandeng BKSDA, Habitat Julang Papua di Weri-Saharey Jadi Perhatian