Inti berita:
• Video pemblokiran akses jalan menggunakan balok kayu di Medan Tembung viral dan disebut-sebut berkaitan dengan tetangga yang membeli mobil baru.
• Kepastian motif tersebut belum terkonfirmasi dan masih terdapat kemungkinan penyebab lain, termasuk lahan parkir, dll.
MetroSelebes.com, MEDAN – Jalan sempit di tengah permukiman Medan Tembung, Kota Medan, tiba-tiba berubah menjadi perhatian warganet setelah sebuah rekaman memperlihatkan akses kendaraan ditutup menggunakan balok kayu. Benda-benda berukuran cukup besar itu dipasang melintang dari sisi bangunan rumah hingga tiang listrik di tepi jalan.
Video tersebut kemudian menyebar di media sosial setelah diunggah akun Facebook Duunie Ariefahny Loebiez. Dalam rekaman yang beredar, posisi balok tampak membuat kendaraan roda empat kesulitan, bahkan disebut tidak dapat melewati akses jalan tersebut. Pemandangan itu pun memancing beragam komentar dari pengguna media sosial.
Baca juga: Dituntut 8 Tahun, Eks Kabaranahan Kemhan Balik Menuding: Saya Hanya Jalankan Perintah Atasan
Di tengah viralnya video, muncul narasi yang mengaitkan pemblokiran akses tersebut dengan persoalan antar-tetangga. Salah satu dugaan yang ramai dibicarakan adalah adanya ketidaknyamanan setelah seorang warga membeli mobil baru. Narasi tersebut kemudian berkembang menjadi isu kecemburuan sosial di lingkungan permukiman.
Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan sebagai penyebab sebenarnya. Hingga informasi ini disusun, belum ada keterangan resmi dari kepolisian maupun perangkat lingkungan setempat yang membenarkan bahwa pemasangan balok kayu memang dilakukan karena persoalan pembelian kendaraan baru. Identitas para pihak juga belum dipublikasikan untuk mencegah munculnya penghakiman sepihak.
Baca juga: Jejak Gus Haris di Lingkaran Bupati Pemalang, dari Pengumpul Uang hingga Dugaan Pengurusan Perkara
Di sisi lain, sejumlah komentar warganet justru mempertanyakan kemungkinan adanya persoalan lain yang mendahului kejadian tersebut. Ada yang menduga pemblokiran berkaitan dengan kebiasaan kendaraan diparkir di jalan sempit sehingga mengganggu akses warga. Spekulasi lain menyebut balok kayu mungkin memiliki fungsi tertentu sebagai penyangga bangunan atau kanopi, meski hal itu juga belum terkonfirmasi.
Perbedaan narasi tersebut menunjukkan bahwa video yang viral belum cukup untuk menjelaskan keseluruhan persoalan. Karena itu, komentar publik sebaiknya tidak langsung diarahkan untuk menyalahkan salah satu pihak sebelum ada penjelasan dari warga yang bersangkutan maupun keterangan lingkungan. Terlebih, konflik akses jalan di kawasan padat berpotensi melebar apabila diselesaikan melalui tekanan atau penghakiman di media sosial.
Penyelesaian persoalan tersebut dinilai lebih tepat ditempuh melalui komunikasi dan mediasi di tingkat lingkungan. Kepala Lingkungan atau pihak terkait dapat mempertemukan warga untuk mengetahui alasan pemasangan balok sekaligus memastikan status akses jalan yang dipersoalkan. Dengan begitu, persoalan yang bermula dari sebuah video viral tidak berkembang menjadi konflik antar-tetangga yang lebih besar. (*)
Artikel Terkait
3 Pejabat Tirta Bhagasasi Terseret Dugaan Korupsi Sambungan Pipa, Uang Pemohon Mengalir ke Rekening Penampung
Viral Firewalk Diduga untuk Calon Pegawai BPJS, Sorotan Mengarah ke Urgensi dan Keselamatan Peserta
Chat WhatsApp Berujung Petaka, Suami Diduga Pukul Istri hingga Tewas di Kamar Kos Grogol
Jejak Gus Haris di Lingkaran Bupati Pemalang, dari Pengumpul Uang hingga Dugaan Pengurusan Perkara
Dituntut 8 Tahun, Eks Kabaranahan Kemhan Balik Menuding: Saya Hanya Jalankan Perintah Atasan