Inti berita:
• Video kegiatan firewalk yang diduga melibatkan calon pegawai BPJS Ketenagakerjaan viral di media sosial dan memicu pertanyaan publik soal relevansi, anggaran, serta aspek keselamatan kegiatan.
METROSELEBES.com, JAKARTA– Bara api membentang di hadapan sejumlah peserta. Satu per satu mereka melangkah melewatinya dalam sebuah kegiatan yang disebut firewalk, sebelum menutup sesi dengan laporan dan yel-yel bernuansa kebersamaan.
Potongan momen tersebut kemudian beredar di media sosial dan disebut berkaitan dengan kegiatan yang diikuti calon pegawai BPJS Ketenagakerjaan. Video yang diunggah akun Instagram @melaniesubono pada Jumat (31/7/2026) itu memperlihatkan peserta didampingi pemandu saat melakukan aktivitas berjalan di atas bara api.
Perhatian publik bukan semata tertuju pada aksi firewalk, tetapi juga pada pertanyaan yang lebih mendasar: apa tujuan kegiatan tersebut dalam proses pembentukan calon pekerja BPJS Ketenagakerjaan? Dalam video, salah seorang peserta terdengar melaporkan bahwa kegiatan firewalk telah selesai, disusul yel-yel “Jamsostek” yang diteriakkan bersama.
Sorotan kemudian menguat setelah Melanie Subono mempertanyakan relevansi kegiatan tersebut. Ia menyinggung kebutuhan keterampilan calon pegawai BPJS Ketenagakerjaan sekaligus mempertanyakan besaran anggaran yang mungkin digunakan untuk kegiatan tersebut. Namun, unggahan dan potongan video yang beredar belum dengan sendirinya menjelaskan secara utuh konteks, tujuan, maupun mekanisme pelatihan tersebut.
Baca juga: Rumah Petani Laoli Dibongkar di Tengah PSN, Koalisi Tuding Ada Kekerasan Aparat
Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, turut memberikan sorotan. Ia menilai kegiatan berjalan di atas api tidak memiliki keterkaitan yang jelas dengan tugas dan tanggung jawab calon pekerja BPJS Ketenagakerjaan.
“Pelatihan berjalan di atas api bagi calon pekerja BPJS Ketenagakerjaan sangat tidak tepat dan harus disesalkan,” kata Timboel dalam keterangannya, Jumat (31/7/2026).
Menurut dia, aspek keselamatan peserta juga semestinya menjadi perhatian utama dalam setiap kegiatan pelatihan. Timboel menilai aktivitas tersebut berpotensi menimbulkan risiko apabila tidak dilaksanakan dengan standar keselamatan yang memadai.
Baca juga: Dugaan Larangan Hijab di SMPN 2 Bonggakaradeng, LSM FAK Desak Sanksi Tegas untuk Kepala Sekolah
Di sisi lain, penilaian terhadap kegiatan tersebut idealnya tidak hanya didasarkan pada potongan video yang beredar. Pihak penyelenggara perlu memberikan penjelasan mengenai tujuan firewalk, status kegiatan apakah bagian dari seleksi atau pelatihan, metode keselamatan yang diterapkan, serta dasar kebutuhan kegiatan tersebut. Dengan demikian, publik dapat melihat persoalan ini secara utuh, bukan sekadar dari sisi kontroversi video yang viral. (*)
Artikel Terkait
Saat Fajar Tak Lagi Membawa Tenang: Puluhan Rumah Warga Tallo Ludes Terbakar, 90 KK Kehilangan Tempat Tinggal
Sengketa Tanaman Jagung di Karassing Mengemuka, Korban Pertanyakan Mediasi Desa, Kades Beri Klarifikasi
Dugaan Larangan Hijab di SMPN 2 Bonggakaradeng, LSM FAK Desak Sanksi Tegas untuk Kepala Sekolah
Rumah Petani Laoli Dibongkar di Tengah PSN, Koalisi Tuding Ada Kekerasan Aparat
3 Pejabat Tirta Bhagasasi Terseret Dugaan Korupsi Sambungan Pipa, Uang Pemohon Mengalir ke Rekening Penampung