John Mearsheimer Nilai AS Sulit Menang atas Iran, Benarkah Washington Kehilangan Keunggulan Strategis?

photo author
Syamsir Anchi, Metro Selebes
- Kamis, 23 Juli 2026 | 12:07 WIB
Profesor John Mearsheimer menilai AS menghadapi keterbatasan strategis untuk mengalahkan Iran, pandangan tersebut masih dalam perdebatan. (Dok.Threads@washingtonpost)
Profesor John Mearsheimer menilai AS menghadapi keterbatasan strategis untuk mengalahkan Iran, pandangan tersebut masih dalam perdebatan. (Dok.Threads@washingtonpost)

Inti berita:

• Pakar hubungan internasional John Mearsheimer menilai Amerika Serikat menghadapi keterbatasan strategis untuk mengalahkan Iran secara militer.

• Pandangan tersebut tetap menjadi bahan perdebatan di kalangan pengamat geopolitik, namun Iran dinilai lebih unggul.

 

MetroSelebes.com, WASHINGTON – Aksi saling serang Washington dengan Teheran kembali menyita perhatian. Di tengah memanasnya dinamika geopolitik Timur Tengah, perdebatan mengenai siapa yang sebenarnya unggul dalam rivalitas Amerika Serikat dan Iran. Kali ini, sorotan datang dari pakar hubungan internasional asal Amerika Serikat, Profesor John Mearsheimer, yang menilai Washington menghadapi keterbatasan besar untuk memaksakan kemenangan melalui jalur militer terhadap Teheran. Pandangan tersebut memantik diskusi luas karena bertolak belakang dengan narasi yang selama ini berkembang mengenai dominasi militer AS.

Dalam berbagai forum akademik, wawancara, dan publikasi yang beredar sepanjang 2026, Mearsheimer berpendapat bahwa konflik dengan Iran tidak memiliki solusi militer yang mudah. Menurutnya, kemampuan Iran bertahan di bawah tekanan sanksi ekonomi, ditambah kapasitas serangan asimetris serta posisi strategisnya di kawasan Teluk, membuat setiap eskalasi justru berpotensi meningkatkan biaya politik dan ekonomi bagi Amerika Serikat maupun dunia.

Baca juga: Pelimpahan Don Ritto ke Kejaksaan Dijaga Ketat, Kehadiran Puluhan Prajurit TNI Tuai Sorotan 

"Tidak ada solusi militer yang mudah untuk memaksa Iran menyerah." Pandangan itulah yang berulang kali disampaikan Mearsheimer dalam berbagai kesempatan. Ia menilai perang berkepanjangan berisiko menguras sumber daya Washington, sementara Iran dinilai masih memiliki kemampuan mempertahankan daya tawarnya melalui pengaruh regional, persenjataan rudal, serta posisi geografis yang strategis, termasuk di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia.

Di sisi lain, sejumlah pengamat menilai analisis tersebut merupakan salah satu sudut pandang dalam studi hubungan internasional, bukan kesimpulan mutlak mengenai hasil akhir persaingan kedua negara. Amerika Serikat tetap memiliki keunggulan dari sisi teknologi militer, jaringan aliansi global, kekuatan ekonomi, serta kemampuan proyeksi militernya di berbagai kawasan. Karena itu, banyak analis berpendapat hasil konflik akan sangat bergantung pada bentuk eskalasi, tujuan politik, serta respons para sekutu di kawasan.

Baca juga: Indonesia Raih Rating AAA di China, Langkah Perdana Terbitkan Panda Bond Dinilai Perluas Akses Pendanaan Global 

Mearsheimer juga menyoroti posisi Amerika Serikat yang dinilainya semakin rumit akibat komitmen terhadap sekutu-sekutunya di Timur Tengah, khususnya Israel. Menurut dia, tuntutan politik yang sulit dipenuhi seluruh pihak dapat mempersempit ruang diplomasi dan memperbesar risiko konflik berkepanjangan yang pada akhirnya tidak menguntungkan kepentingan strategis Washington sendiri.

Meski menyebut Iran memperoleh keuntungan strategis dalam dinamika konflik terbaru, Mearsheimer tidak menyimpulkan bahwa Amerika Serikat kehilangan statusnya sebagai kekuatan global. Ia menilai sejarah menunjukkan sebuah negara adidaya tetap dapat mempertahankan pengaruh internasionalnya meski mengalami kemunduran atau kegagalan dalam konflik tertentu, sebagaimana yang pernah dialami AS setelah Perang Vietnam.

Baca juga: Ribuan Calon Siswa SMA Negeri di Sulsel Terancam Tak Kebagian Bangku, DPRD Jemput Solusi ke Kemendikbud 

Perdebatan mengenai analisis Mearsheimer memperlihatkan bahwa konflik AS-Iran tidak hanya dipandang dari kekuatan militer semata, tetapi juga menyangkut kalkulasi politik, ekonomi, diplomasi, dan stabilitas kawasan. Di tengah situasi yang masih dinamis, berbagai pandangan dari kalangan akademisi maupun pengambil kebijakan diperkirakan akan terus berkembang seiring perubahan kondisi geopolitik di Timur Tengah. (*)

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Syamsir Anchi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X