Inti berita:
• Mahasiswa KKN-PK Unhas Angkatan 69 mengubah edukasi cuci tangan menjadi pembelajaran interaktif.
• Antusias siswa tiga SD di Tellu Boccoe mengikuti upaya membangun kebiasaan hidup bersih dan mencegah penyakit menular sejak dini.
METROSELEBES.com, BONE — Tangan-tangan kecil itu bergerak mengikuti irama lagu. Di hadapan mahasiswa KKN, para siswa sekolah dasar di Desa Tellu Boccoe tidak sekadar belajar mencuci tangan, tetapi diajak memahami bahwa kebiasaan sederhana tersebut bisa menjadi perlindungan pertama dari berbagai penyakit.
Pesan itulah yang dibawa mahasiswa KKN-PK Angkatan 69 Universitas Hasanuddin Posko Desa Tellu Boccoe melalui Program GERTAS atau Gerakan Tangan Bersih. Edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tersebut diarahkan pada kebiasaan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) sebagai langkah promotif dan preventif untuk mengurangi risiko penyakit menular pada anak usia sekolah.
Baca juga: Bukan Sekadar Sunatan Massal, Pemuda Pancasila dan Polres Bulukumba Bangun Kolaborasi Sosial
Program GERTAS digelar di SD Inpres 12/79 Tellu Boccoe dan SDN 194 Tellu Boccoe pada 17 Juli 2026, kemudian berlanjut di SD Inpres 6/80 Tellu Boccoe pada 22 Juli 2026. "Para siswa mendapat penjelasan mengenai manfaat CTPS, waktu-waktu penting mencuci tangan serta kaitan kebersihan tangan dengan pencegahan penyakit seperti diare, influenza dan ISPA," ujar guru di SD Tellu Boccoe.
Mahasiswa KKN tidak ingin edukasi berhenti pada penyampaian materi. Peserta terlebih dahulu mengikuti pre-test untuk mengukur pengetahuan awal, kemudian diajak mengikuti pembelajaran secara interaktif. Materi PHBS dan CTPS disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami agar siswa dapat menghubungkan kebiasaan mencuci tangan dengan aktivitas mereka sehari-hari di sekolah maupun di rumah.
Pada sesi praktik, antusiasme siswa terlihat ketika mereka mengikuti demonstrasi enam langkah cuci tangan yang benar sesuai pedoman WHO. Lagu edukatif dan video animasi digunakan sebagai media pendukung sehingga tahapan mencuci tangan menjadi lebih mudah diikuti dan diingat oleh anak-anak.
Setelah seluruh rangkaian edukasi dan praktik selesai, siswa kembali mengerjakan post-test. Evaluasi tersebut digunakan untuk mengetahui perubahan pemahaman peserta setelah mengikuti kegiatan. Program GERTAS diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga mendorong siswa menjadikan CTPS sebagai rutinitas sebelum makan, setelah beraktivitas dan pada waktu-waktu penting lainnya.
Baca juga: BREAKING NEWS: Mal Nipah Makassar Kebakaran Malam Ini, Arus Lalu Lintas Urip Sumoharjo Macet Parah
Upaya tersebut sekaligus membutuhkan dukungan dari lingkungan sekitar anak. Karena itu, pelaksanaan GERTAS melibatkan mahasiswa KKN, pihak sekolah, guru dan Pemerintah Desa Tellu Boccoe. Kolaborasi tersebut diharapkan menjaga keberlanjutan pesan PHBS sehingga kebiasaan hidup bersih tidak berhenti di ruang kelas, tetapi terbawa hingga ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Program ini juga sejalan dengan SDG 3 tentang kesehatan dan kesejahteraan serta SDG 4 tentang pendidikan berkualitas. (*)