Kesaksian personal disampaikan Endang Pratiwi, cucu Margono dari ibu Miniati. Ia berbagi kenangan tentang semangat hidup sang eyang yang selalu menanamkan prinsip berdiri di atas kaki sendiri.
“Eyang selalu berkata bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang berdiri di atas kakinya sendiri. Prinsip itu menjadi warisan paling berharga bagi kami,” tutur Endang.
Bedah buku ini mendapat respons positif dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi, mahasiswa, hingga komunitas literasi. Mereka antusias mengikuti jalannya diskusi dan menggali lebih dalam soal sejarah pendirian BNI sebagai bank nasional pertama Republik Indonesia.
Baca Juga: SPHP Digeber Serentak, Harga Beras Dikunci Rp12.500/kg, Pemerintah Pastikan Tak Salah Salur
Penulis lain, Iqbal Irsyad, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan literasi sejarah yang bertujuan untuk mengangkat kembali peran tokoh-tokoh pendiri republik yang sering kali terpinggirkan dalam narasi besar sejarah nasional.
“Ini adalah bentuk penghormatan sekaligus pendidikan sejarah agar kita tidak lupa pada fondasi ekonomi bangsa yang dibangun dengan idealisme dan pengorbanan,” pungkas Iqbal. ***