JAKARTA – METROSELEBES.COM – Indonesia mencatat tonggak penting dalam sejarah ekspor pertanian nasional dengan berhasil menembus pasar Amerika Serikat untuk produk telur konsumsi, di tengah lonjakan produksi nasional dan krisis flu burung global yang melanda berbagai negara.
Surplus produksi telur nasional yang mencapai 288,7 ribu ton per bulan—setara 5 miliar butir telur—membuka peluang ekspor besar bagi Indonesia, sebagaimana diungkap Kementerian Pertanian.
Dengan memfasilitasi ekspor 1,6 juta butir telur ayam konsumsi per bulan ke Amerika Serikat, Indonesia bukan hanya memperluas pasar luar negeri, tapi juga membuktikan kualitas dan daya saing tinggi produk dalam negerinya.
Telur yang diekspor harus lolos standar ketat dari Food and Drug Administration (FDA) AS, yakni bebas Salmonella, bebas residu antibiotik, dan berkualitas tinggi.
Sebelumnya, Indonesia telah sukses mengekspor telur ke Singapura dan Uni Emirat Arab.
Menurut data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), produksi telur nasional pada 2023 mencapai 6,5 juta ton per tahun, sementara kebutuhan domestik hanya sekitar 6,2 juta ton.
Baca Juga: Teknologi Militer Diminati Dunia, Israel Catat Lonjakan Ekspor di Masa Perang
Artinya, terdapat potensi ekspor hingga 300 ribu ton per tahun.
Ditambah lagi, wabah Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) yang menyerang sejumlah negara produsen besar—termasuk Amerika—menjadikan Indonesia sebagai calon pemasok strategis.
Langkah ekspor ini menegaskan kemampuan Indonesia untuk bersaing di pasar global dan memperkuat posisinya sebagai negara agraris yang mandiri, berdaulat, dan berdaya saing tinggi.
Kementerian Pertanian juga menekankan bahwa ekspor tidak mengganggu kebutuhan dalam negeri dan harga telur tetap stabil.