JAKARTA – METROSELEBES.COM – Indonesia berpeluang besar menjadi raja telur dunia, menyusul lonjakan produksi dalam negeri yang melampaui kebutuhan nasional dan kondisi global yang sedang mengalami gangguan produksi akibat wabah flu burung.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian, produksi telur nasional mencapai 6,5 juta ton per tahun, sedangkan kebutuhan domestik hanya 6,2 juta ton.
Artinya, ada surplus sekitar 288,7 ribu ton setiap bulan, setara 5 miliar butir telur, yang membuka lebar pintu ekspor.
Menanggapi peluang ini, Kementerian Pertanian mulai memfasilitasi ekspor rutin sebanyak 1,6 juta butir Telur ayam konsumsi per bulan ke Amerika Serikat.
Meski begitu, kebutuhan dalam negeri tetap dipastikan terpenuhi dan harga dijaga agar tetap stabil.
Baca Juga: Koperasi Merah Putih: Akselerasi Legalitas untuk Ekonomi Desa Bangkit
Langkah ini dinilai sebagai momen strategis untuk memperluas pasar ekspor Indonesia di tengah krisis global pasokan telur, terutama di negara-negara yang terdampak flu burung tipe Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI).
Telur-telur ekspor Indonesia wajib memenuhi standar tinggi dari FDA Amerika Serikat, yakni bebas Salmonella, tidak mengandung residu antibiotik, dan memiliki kualitas premium.
Sebelumnya, Indonesia juga telah berhasil mengekspor telur ke Singapura dan Uni Emirat Arab, menunjukkan daya saing peternakan nasional yang terus meningkat.
Menurut pakar agribisnis IPB, Dr. Arif Satria, ekspor telur bisa menjadi andalan baru Indonesia di pasar agrikultur dunia karena didukung oleh sistem peternakan modern dan pengawasan ketat mutu produk.
Lebih lanjut, Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan nilai ekspor produk peternakan naik 7,4% pada kuartal pertama 2024, yang mayoritas didorong oleh permintaan telur dan olahannya.
Langkah strategis ini bukan hanya memperkuat posisi Indonesia sebagai negara agraris yang mandiri dan tangguh, namun juga membuktikan bahwa Indonesia siap mengambil alih pasar global yang sedang krisis pasokan.