Dengan adanya dua sudut pandang tersebut, persoalan kini bukan hanya soal perbedaan hasil pemeriksaan, tetapi juga bagaimana kronologi medis dan kemungkinan hubungan komersial dalam konten tersebut dijelaskan secara terbuka. Hingga keterangan Fahira dan pihak terkait semakin lengkap, perbedaan diagnosis itu tetap perlu ditempatkan sebagai pengalaman individual yang tidak serta-merta menjadi kesimpulan umum mengenai kualitas layanan kesehatan di Indonesia maupun Malaysia. (*)
(Mrw/Ade)