Inti berita:
• PILHI Bulukumba menyoroti keluhan keterlambatan ijazah sejumlah alumni siswa RA Pastabikul Khaerat Manyampa.
• Sementara pengelola menjelaskan keterlambatan disebabkan keterbatasan blanko dan menegaskan iuran bulanan sudah tidak diberlakukan.
• Terungkap pula dugaan pembayaran untuk pengambilan ijazah mulai Rp500-Rp1 juta, pihak pengelola berdalih sebagian untuk penamatan.
METROSELEBES.com, BULUKUMBA – Keluhan sejumlah orang tua terkait keterlambatan penyerahan ijazah alumni siswa Raudhatul Athfal (RA) Pastabikul Khaerat Manyampa, Kecamatan Ujung Loe, Kabupaten Bulukumba, mendapat perhatian Pusat Informasi Lingkungan Hidup Indonesia (PILHI) Cabang Bulukumba.
Direktur Eksekutif PILHI Bulukumba, Andi M Guntur Basran, mengatakan pihaknya memperoleh laporan dari sejumlah orang tua mengenai lamanya proses penyerahan ijazah. Berdasarkan laporan tersebut, terdapat alumni siswa yang disebut telah melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP, tetapi dokumen kelulusan dari RA belum diterima.
Baca juga: Celine Olivia Bawa Nama Kalbar ke Istana, Siswi SMKN 5 Pontianak Dipercaya Membawa Baki Merah Putih
Selain persoalan ijazah, PILHI juga menerima informasi mengenai dugaan pembayaran dari orang tua siswa dengan nominal yang disebut berkisar Rp500 ribu hingga Rp1 juta. Informasi tersebut kemudian dikonfirmasi kepada pengelola RA untuk memperoleh penjelasan dari pihak sekolah.
Pengelola RA Pastabikul Khaerat Manyampa, Hj. Syamsiah, saat dikonfirmasi MetroSelebes.com, Senin (17/8/2026), menjelaskan bahwa lembaga pendidikan tersebut merupakan hasil rintisan yang berdiri sejak 2015. Saat ini, terdapat dua Rombel namun digabung mengingat keterbatasan, dan jumlah murid sebanyak 30.
Menurut Syamsiah, sejak awal berdiri hingga sekarang, RA tersebut belum pernah memperoleh bantuan dari pemerintah. Pihak yayasan, kata dia, sudah pernah mengajukan permohonan bantuan, tetapi status akreditasi yang masih C menjadi salah satu kendala dalam memperoleh bantuan, terutama bagi lembaga pendidikan swasta.
Permintaan Maaf atas Keterlambatan
“Saya meminta maaf apabila ada kekeliruan. Sekadar informasi, sekolah ini merupakan hasil rintisan sejak 2015. Sejak berdiri, kami belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Yayasan sudah pernah mengajukan permohonan bantuan, tetapi karena status akreditasi masih C, cukup sulit mendapatkan bantuan, apalagi untuk sekolah swasta,” ujar Syamsiah.
Baca juga: HUT RI ke-81 di Tengah Bencana, Pemerintah Percepat Pemulihan Flores dari Jalur Darat hingga Udara