JAKARTA, METROSELEBES.COM – Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 8% pada tahun 2029, sebuah visi ambisius yang ditujukan untuk membawa Indonesia keluar dari middle income trap dan menjadi negara maju.
Target ini memunculkan harapan sekaligus pertanyaan besar: apakah mimpi ini realistis atau sekadar seremonial.
Dalam dokumen resmi visi-misi Prabowo-Gibran yang telah diserahkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk periode awal pemerintahan ditetapkan pada kisaran 6% hingga 7% mulai 2025.
Baca Juga: Darurat Demokrasi atau Tafsir Ekonomi? Ungkap Rahasia Konstitusi Bersama Ahlinya
Kenaikan menjadi 8% dipandang sebagai tujuan jangka menengah yang menuntut reformasi besar-besaran.
Untuk mengejar target tersebut, sejumlah strategi telah dirancang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Di antaranya:
Peningkatan Konsumsi dan Investasi
Pemerintah menargetkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga dari 5,14% (2025) menjadi 7,27% (2029).
Investasi juga akan digenjot melalui peningkatan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dari 6,66% ke 9,65%.
Penguatan Belanja Sosial dan Infrastruktur
Program makan gratis bagi 83 juta siswa dan ibu hamil serta pembangunan infrastruktur pendidikan di daerah miskin menjadi prioritas utama untuk mendukung produktivitas jangka panjang.
Baca Juga: Ternyata Selama Ini Kita Salah! Bagian Ini yang Jadi Kacang Mete, Bukan Buahnya
Hilirisasi dan Ekonomi Hijau
Pemerintah juga akan melanjutkan agenda hilirisasi sumber daya alam dan pengembangan ekonomi berkelanjutan guna mendorong nilai tambah industri nasional.
Meski strategi disusun secara menyeluruh, banyak kalangan ekonom mempertanyakan realistisnya target 8% tersebut.
Pasalnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam satu dekade terakhir cenderung stagnan di kisaran 5%, dan belum pernah menembus angka 8% sejak tahun 1995.