Tragedi ini akhirnya menjadi pengingat bahwa konflik rumah tangga, termasuk persoalan poligami maupun perpecahan keluarga, seharusnya tidak menempatkan anak sebagai pelindung, pembela, atau alat dalam pertarungan emosional orang dewasa.
Baca juga: Ironi Pelabuhan Pamatata: Terminal Atas Mulai Digital, Ruang Tunggu Bawah Justru Rusak dan Kotor
Satu peristiwa telah meninggalkan kehilangan bagi keluarga korban sekaligus masa depan yang berubah bagi seorang remaja. Karena itu, pencegahan sejak dini melalui komunikasi, pendampingan keluarga, dan akses terhadap bantuan psikologis menjadi bagian penting agar luka batin anak tidak berubah menjadi tragedi baru. (*)
(Has/Man)