Inti berita:
• BMKG menegaskan gempa belum dapat diprediksi secara tepat waktu, lokasi, dan magnitudonya.
• Sementara M8,9 merupakan skenario pemodelan terburuk, bukan ramalan waktu terjadinya gempa.
METROSELEBES.com, JAKARTA — Satu video pendek dari Kanada mendadak berubah menjadi sumber kecemasan baru bagi sebagian warga Indonesia. Frankie MacDonald, pengamat amatir yang aktif di media sosial, menyebut gempa berkekuatan M7 hingga M9 berpotensi mengguncang Pulau Jawa dan Jakarta sebelum akhir 2026. Klaim tersebut kemudian menyebar luas di berbagai platform dan grup percakapan.
Yang membuat narasi itu cepat dipercaya bukan hanya besarnya angka magnitudo, tetapi juga kemunculannya saat pembahasan mengenai ancaman megathrust sedang ramai. Potongan informasi di media sosial kemudian bercampur antara prediksi, skenario pemodelan, dan fakta kebencanaan, sehingga batas antara informasi ilmiah dan spekulasi menjadi kabur.
Baca juga: Gempa Dalam M6,5 Guncang Laut Dekat Jakarta, Getaran Terasa hingga Jawa dan Jakarta
BMKG menegaskan ada satu persoalan mendasar dalam klaim tersebut. Sampai saat ini, ilmu seismologi belum memiliki kemampuan untuk menentukan secara tepat kapan, di mana, dan berapa besar kekuatan gempa sebelum terjadi. Karena itu, klaim yang menetapkan waktu dan lokasi gempa secara spesifik tidak dapat diperlakukan sebagai prediksi ilmiah.
“Secara teori dan aplikasi ilmu seismologi di seluruh dunia saat ini, belum ada satu pun teknologi atau pakar yang mampu memprediksi kapan, di mana, dan berapa kekuatan gempa bumi secara tepat sebelum peristiwa itu terjadi,” kata Penjabat Kendali Mutu Data Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Dr. Pepen Supendi, S.T., M.Si. dikutip dari pernyataan resminya.
Baca juga: Telepon Mensesneg di Toilet Senayan Jadi Awal Purbaya Tahu Nasibnya sebagai Menkeu
Persoalan berikutnya muncul dari angka M8,9 yang kerap dibawa ke dalam narasi tersebut. Angka itu bukan penetapan bahwa gempa sebesar itu akan terjadi sebelum akhir 2026. BMKG menjelaskan bahwa M8,9 merupakan bagian dari skenario pemodelan terburuk yang digunakan untuk kebutuhan kajian risiko dan kesiapsiagaan, termasuk dalam pemodelan bersama BRIN.
Artinya, skenario terburuk dan ramalan waktu kejadian berada pada dua kategori yang berbeda. Pemodelan digunakan untuk menguji kemungkinan dampak dan membantu penyusunan mitigasi, sedangkan prediksi gempa membutuhkan kemampuan menentukan waktu, lokasi, sekaligus magnitudo secara akurat—sesuatu yang menurut BMKG belum dapat dilakukan teknologi dan ilmu seismologi saat ini.
Di tengah derasnya informasi bencana di media sosial, masyarakat akhirnya berhadapan dengan dua hal sekaligus: ancaman gempa yang memang perlu diantisipasi dan klaim waktu kejadian yang belum terbukti secara ilmiah. BMKG mengimbau masyarakat tidak menyebarkan kembali ramalan tersebut dan menjadikan informasi dari kanal resmi kebencanaan sebagai rujukan, sembari tetap melakukan mitigasi tanpa harus menunggu munculnya prediksi gempa. (*)
Artikel Terkait
OTT KPK Guncang ATR/BPN, 17 Orang Diamankan dan Uang Ratusan Miliar Disita
Gagal Finis di Misano, Bezzecchi Saksikan Marc Marquez Juara dari Monitor, Lihat Reaksinya
Rp40 Triliun Nyaris Bocor, KPK Bongkar Celah Uang Negara dari Aset hingga Belanja Daerah
Telepon Mensesneg di Toilet Senayan Jadi Awal Purbaya Tahu Nasibnya sebagai Menkeu
Seloroh Purbaya Setelah Dicopot Prabowo, Saya Akan Mancing di Belakang Rumah Sambil Melamun Kenapa Saya Dipecat