Inti berita:
• Polisi menangkap AD dan RS, dua mantan buruh bangunan yang diduga terlibat dalam pencurian disertai kekerasan.
•Teka-teki kematian terhadap Wakil Rektor II ITB Indonesia Kabanjahe, Asprina Surbakti mulai terkuak.
• Polisi juga telah mengamankan sejumlah barang bukti milik korban, termasuk sebuah mobil plat BK 1326 SAD.
METROSELEBES.com, KARO - Dini hari di sebuah rumah kawasan Kompleks J-Kesain, Berastagi, berubah menjadi titik akhir bagi rencana pencurian yang telah dipantau selama berbulan-bulan. Asprina Surbakti (38), Wakil Rektor II Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Indonesia Kabanjahe, tewas setelah memergoki orang yang masuk ke kediamannya sekitar pukul 04.00 WIB.
Kurang dari 2x24 jam setelah kejadian, polisi bergerak cepat. Tim gabungan Subdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Sumut bersama Satreskrim Polres Karo meringkus dua pria bernama Andi Fahru Rozi Siregar alias AFRS (25) dan M Rafli Simanjuntak alias MRS (37), dua pria yang diduga terlibat dalam kematian Wakil Rektor II ITB Indonesia Kabanjahe Asprina Surbakti.
Baca juga: Misteri Kematian Wakil Rektor ITB Kabanjahe, Ditemukan Tewas di Kamar Mandi, CCTV Jadi Petunjuk?
Kapolres Karo AKBP Febriandi Haloho mengatakan, penangkapan dilakukan ketika kedua tersangka disebut sedang mempersiapkan diri untuk melarikan diri ke luar provinsi. Polisi kemudian mengambil tindakan tegas terukur setelah keduanya disebut melakukan perlawanan saat hendak diamankan.
Penyelidikan polisi juga mengungkap dugaan perencanaan sebelum aksi berlangsung. AFRS dan MRS disebut telah mengamati aktivitas korban selama sekitar dua bulan. Rumah tersebut diduga menjadi sasaran karena mereka mengetahui Asprina tinggal seorang diri.
Baca juga: Penyidik Ajukan Pencekalan ke Luar Negeri terhadap Bupati Gowa Usai Ditetapkan Tersangka
Saat aksi berlangsung, situasi berubah ketika korban terbangun dan mengetahui keberadaan pelaku. Peristiwa pencurian itu kemudian berujung pada hilangnya nyawa Asprina. Polisi menegaskan kasus tersebut mengarah pada tindak pidana pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan kematian, bukan persoalan asmara seperti yang mungkin berkembang di tengah masyarakat.
Dari rangkaian penyelidikan dan analisa yang dilakukan, tim berhasil mengidentifikasi dua orang yang diduga terlibat dalam perkara ini," ujar AKBP Febriandi Haloho.
Baca juga: Prabowo-Megawati Bertemu di Tengah Duka, PDIP Tegaskan Tak Ada Agenda Politik