Jakarta, METROSELEBESCOM – Sektor pariwisata Indonesia menunjukkan geliat kebangkitan yang signifikan di awal tahun 2025. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI mencatat berbagai capaian positif dalam Laporan Kinerja periode Maret–April 2025.
Momentum ini menjadi bukti nyata dari keberhasilan berbagai strategi pemulihan pasca-pandemi dan penguatan promosi wisata nasional.
Capaian tersebut disampaikan Kemenparekraf dalam Forum Diseminasi Hasil Indonesia Tourism Development Project (ITDP), yang telah resmi berakhir implementasinya pada Desember 2024 dan dipresentasikan pada 13 Maret 2025 di Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, sebagai bagian dari evaluasi Proyek Pinjaman Hibah Luar Negeri (PHLN).
Salah satu pencapaian utama adalah peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sebesar 13% dibandingkan tahun sebelumnya.
Ini merupakan pertanda pulihnya kepercayaan wisatawan global terhadap destinasi Indonesia.
Tak hanya itu, libur Lebaran 2025 menjadi pendorong utama lonjakan perjalanan wisata dalam negeri yang mencapai 154 juta perjalanan domestik, sebuah angka yang mencerminkan tingginya antusiasme masyarakat untuk menjelajahi keindahan nusantara.
Program kampanye #DiIndonesiaAja yang konsisten digaungkan Kemenparekraf juga terbukti efektif dalam membangun kesadaran dan kebanggaan terhadap destinasi lokal. Dari Sabang sampai Merauke, berbagai daerah mencatat peningkatan kunjungan, terutama destinasi unggulan seperti Bali, Yogyakarta, Labuan Bajo, Danau Toba, hingga Likupang.
Lebih dari sekadar data statistik, Kemenparekraf juga menyoroti berbagai kemajuan strategis lain.
Mulai dari program kerja lintas kementerian dan lembaga, penguatan ekosistem ekonomi kreatif, hingga peningkatan kerja sama internasional di bidang pariwisata yang kini diarahkan pada era Tourism 5.0.
Baca Juga: Vasektomi Jadi Syarat Bansos? DPD RI: Kebijakan Tak Manusiawi, Langgar HAM dan UU Kesehatan
Konsep Tourism 5.0 menekankan pada pemanfaatan teknologi digital, inovasi berkelanjutan, serta pendekatan inklusif demi menciptakan sektor pariwisata yang tangguh, adaptif, dan berorientasi pada kualitas pengalaman wisatawan serta kelestarian budaya dan alam.