Inti berita:
• Kebakaran hebat di Kampung Bapouda, Paniai Timur, menewaskan 11 orang, enam anak-anak diantaranya meninggal.
• Dikabarkan 40–49 rumah dan kios, serta menyebabkan 148 warga kehilangan tempat tinggal.
• Polisi masih menyelidiki penyebab kebakaran melalui olah TKP dan pemeriksaan Labfor.
METROSELEBES.com, PANIAI — Malam yang semestinya menjadi waktu warga Kampung Bapouda, Distrik Paniai Timur, Kabupaten Paniai, Papua Tengah, beristirahat berubah menjadi kepanikan. Sekitar pukul 00.25 WIT, Senin (7/9/2026), api tiba-tiba berkobar di kawasan pasar dan dengan cepat merambat ke bangunan-bangunan di sekitarnya.
“Tiba-tiba ada yang teriak kebakaran, dan saya langsung bangun. Saat itu api sudah membesar dan warga berusaha menyelamatkan diri,” ujar Yohanes.
Kebakaran yang meluluhlantakkan kawasan pasar tersebut terjadi ketika sebagian besar warga masih berada dalam kondisi terlelap, sehingga banyak korban tidak sempat menyelamatkan diri saat api dengan cepat menjalar ke bangunan lain.
Api yang membesar dalam kawasan padat bangunan semi-permanen membuat proses penyelamatan berlangsung sulit. Petugas bersama warga berupaya melakukan pemadaman, tetapi keterbatasan peralatan dan kondisi lokasi menjadi tantangan. Kobaran api akhirnya dapat dikendalikan sekitar pukul 03.30 WIT, setelah berjam-jam menghanguskan bangunan di kawasan tersebut.
Tak hanya meninggalkan kehilangan jiwa, kebakaran itu juga memutus sumber penghidupan warga. Data sementara menyebut sekitar 40 hingga 49 rumah dan kios terbakar. Pasar yang selama ini menjadi tempat warga menjalankan usaha berubah menjadi hamparan puing, dengan kerugian materiil yang diperkirakan mencapai miliaran rupiah.
Pagi setelah kebakaran, kesibukan berganti dengan suasana pengungsian. Sebanyak 148 warga dilaporkan kehilangan tempat tinggal dan harus bertahan di posko darurat, masjid, maupun rumah keluarga. Pemerintah daerah bersama relawan mulai menyalurkan kebutuhan dasar seperti makanan, tenda, dan pakaian bagi para korban.
Kebutuhan trauma healing atau pemulihan psikologis menjadi hal mendesak, terutama bagi keluarga yang kehilangan anak-anak mereka, demikian perhatian yang mengemuka pascakejadian. Pemulihan tidak hanya dibutuhkan untuk mengembalikan kehidupan warga yang kehilangan rumah dan usaha, tetapi juga untuk membantu keluarga menghadapi duka akibat kehilangan anggota keluarga.