Inti berita:
• Peringatan HUT Dewa Kwan Kong ke-1866 di Jalan Sulawesi Makassar menyoroti keberlanjutan tradisi Tionghoa sekaligus kuatnya toleransi antarumat beragama di Kota Makassar.
MetroSelebes.com, MAKASSAR – Di tengah hiruk-pikuk Jalan Sulawesi, Makassar, nuansa perayaan keagamaan terasa berbeda pada 6 Agustus 2026. Aktivitas warga dan komunitas Tionghoa berpadu dengan suasana peringatan HUT Dewa Kwan Kong ke-1866, sebuah tradisi yang menjadi bagian dari jejak panjang keberadaan masyarakat Tionghoa di Kota Makassar.
Jalan Sulawesi sendiri dikenal sebagai salah satu kawasan yang memiliki keterkaitan kuat dengan aktivitas komunitas Tionghoa di Makassar. Di kawasan tersebut berdiri tiga kelenteng yang menjadi simbol keberadaan sekaligus ruang untuk menjaga tradisi dan kepercayaan leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Baca juga: Rekaman Demo Lama Dikemas Jadi Ancaman Aksi Jelang 17 Agustus, Polisi Tangkap Pemilik Akun TikTok
Kehadiran masyarakat Tionghoa di Indonesia, termasuk di Makassar dan sejumlah wilayah Sulawesi Selatan, pada awalnya tidak terlepas dari aktivitas perdagangan. Mereka kemudian berkembang dan menetap, membangun jaringan usaha serta kehidupan sosial di tengah berbagai perubahan zaman dan dinamika politik yang pernah terjadi.
Dari perjalanan panjang tersebut, tradisi leluhur turut dipertahankan melalui keberadaan tempat-tempat ibadah. Kelenteng tidak hanya menjadi ruang untuk menjalankan keyakinan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya yang terus dijaga komunitas Tionghoa hingga kini.
Peringatan HUT Dewa Kwan Kong ke-1866 menjadi salah satu momentum untuk melihat bagaimana tradisi tersebut tetap hidup di tengah masyarakat Makassar yang beragam. Perayaan keagamaan itu berjalan berdampingan dengan kehidupan masyarakat dari berbagai latar belakang keyakinan.
Edy, salah satu warga keturunan Tionghoa, mengungkapkan rasa syukurnya atas suasana toleransi antarumat beragama di Makassar. Menurut dia, masyarakat memiliki ruang untuk menjalankan dan mengekspresikan keyakinannya tanpa harus merasa khawatir terhadap perbedaan yang ada.
Baca juga: Wajah Trump dan MBS Ditempel di Tong Sampah Baghdad, Aksi Protes Ini Bikin Geger
“Kita di Makassar sudah seperti bersaudara walaupun berbeda kepercayaan,” ungkap Edy kepada MetroSelebes.com, Rabu (5/8/2026).
Bagi komunitas Tionghoa, peringatan tersebut bukan sekadar agenda keagamaan tahunan. Di baliknya terdapat perjalanan sejarah, perdagangan, tradisi, dan proses membangun kehidupan bersama di Kota Makassar. HUT Dewa Kwan Kong ke-1866 pun menjadi pengingat bahwa keberagaman dapat terus dirawat ketika setiap kelompok memiliki ruang untuk menjalankan keyakinan sekaligus menghargai kehidupan bersama. (*)