Inti berita:
• Iran mengklaim meluncurkan rudal ke pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania sebagai respons atas serangan udara AS ke wilayah Iran.
• Di tengah saling serang, Yordania menyatakan berhasil mencegat rudal yang memasuki wilayah udaranya.
• Sementara ketegangan di Selat Hormuz turut memicu lonjakan harga minyak dunia
MetroSelebes.com, TEHERAN - Langit Timur Tengah kembali dipenuhi ketegangan ketika rentetan rudal dilaporkan meluncur menuju wilayah Yordania. Di tengah eskalasi yang belum menunjukkan tanda mereda, Iran mengklaim telah menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat di negara tersebut, sementara militer AS menyatakan telah menyelesaikan gelombang serangan udara selama sekitar lima jam terhadap sejumlah sasaran di Iran. Situasi ini memperlihatkan bahwa konflik kedua negara kini memasuki fase yang semakin berisiko bagi stabilitas kawasan.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyebut serangan itu sebagai respons terhadap operasi militer Amerika Serikat. Dalam pernyataannya, IRGC juga menyerukan agar masyarakat Yordania mendorong pembongkaran pangkalan-pangkalan militer AS di negaranya. Meski demikian, pemerintah Yordania menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat dan menghancurkan empat rudal yang memasuki wilayah udaranya, sehingga dampak serangan dapat diminimalkan.
Baca juga: Babak Baru Hak Angket DPRD Gowa, Bupati Sitti Husniah Jalani Pemeriksaan di Bawah Sumpah
Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi operasi militernya terhadap Iran telah berakhir setelah berlangsung sekitar lima jam. Serangan tersebut menjadi gelombang ketiga dalam tiga malam berturut-turut, menyusul kebijakan Presiden Donald Trump yang kembali memberlakukan blokade terhadap pelayaran Iran. Trump juga memicu kontroversi setelah mengusulkan pungutan sebesar 20 persen bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz dengan alasan pengamanan jalur pelayaran internasional.
Pemerintah Iran menolak keras langkah tersebut. Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi menegaskan bahwa Selat Hormuz berada di bawah tanggung jawab Iran dan bukan Amerika Serikat. "Iran adalah penjaga Selat Hormuz dan akan tetap demikian selamanya," tulis Araqchi melalui media sosial X, sembari menyindir usulan tarif 20 persen yang disampaikan Presiden Trump.
Ketegangan juga menjalar ke jalur pelayaran internasional. Uni Emirat Arab melaporkan dua kapal tanker minyaknya terkena serangan rudal saat melintas di perairan sekitar Selat Hormuz. Sementara itu, IRGC mengklaim telah melumpuhkan dua supertanker yang disebut mengabaikan peringatan dan mematikan sistem navigasi. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, sehingga masing-masing pihak masih mempertahankan versinya sendiri terkait insiden di laut.
Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Organisasi Maritim Internasional (IMO) turut memberikan tanggapan. Badan tersebut menyatakan tidak terdapat dasar hukum internasional yang membenarkan penerapan pungutan wajib bagi kapal yang melintasi selat internasional seperti Selat Hormuz. Di tengah meningkatnya ketidakpastian keamanan kawasan, harga minyak dunia dilaporkan melonjak hampir tiga persen dan mencapai level tertinggi dalam sekitar empat pekan akibat kekhawatiran terganggunya pasokan energi global.
Baca juga: Pelarian DPO Curanmor Showroom di Maros Berakhir, Aparat Ringkus Terduga Pelaku di Makassar
Artikel Terkait
Diterpa Isu Jadi Simpanan Pejabat, Celine Evangelista Buka Suara dan Tegaskan Sudah Punya Pasangan
Kiandra Ramadhipa Kibarkan Merah Putih di Sachsenring, Menang Dramatis usai Race 2 Red Bull Rookies Cup Dihentikan Red Flag
Pelarian DPO Curanmor Showroom di Maros Berakhir, Aparat Ringkus Terduga Pelaku di Makassar
Datang Memburu Pelaku Curanmor, Polisi Kendari Justru Menemukan Drama Kemanusiaan di Balik Pintu Kontrakan
Babak Baru Hak Angket DPRD Gowa, Bupati Sitti Husniah Jalani Pemeriksaan di Bawah Sumpah