Kasus bunuh diri di Toraja sendiri masih menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh stakeholders di wilayah tersebut.
Sebab beberapa tahun terakhir, pemerintah telah melakukan upaya untuk menekan angka kasus bunuh di Toraja.
Baca Juga: Fitur Terbaru WhastApp 2023, Memang Sangat Dibutuhkan
Tercatat, pemerintah di dua wilayah itu telah menghadirkan psykolog, dengan harapan mampu menekan angka kasus bunuh di Toraja.
Pada tahun 2020 lalu, ada 30 kasus bunuh diri yang terjadi di wilayah tersebut.
Dari 30 kasus itu, 16 kasus diantaranya terjadi di wilayah Toraja Utara selama tahun 2020. Sementara 11 kasus terjadi di Tana Toraja.
Pemicunya beragam, mulai dari persoalan ekonomi hingga masalah asmara.
Baca Juga: Update WhatsApp 2023, Ini Fitur-fitur Terbarunya
kasus bunuh diri di Toraja, bisa dibilang mengalami penurunan. Namun, pada awal 2023 ini masyarakat kembali digegerkan dengan beberapa kasus bunuh diri.
Sosiolog asal Tana Toraja, Kristian HP Lambe menjelaskan mengenai empat tipe bunuh diri menurut Emile Durkheim.
Ia mengatakan dalam kasus bunuh diri yang dipicu oleh faktor asmara yang menimpa dua sejoli, termasuk dalam kategori egoistik.
"Yang putus cinta dan asmara itu adalah egoistik, karena dia ego terhadap dirinya," katanya.
"Kemudian yang doktrin dikatakan dia masuk dalam kategori fatalistik, misalnya kasus bunuh diri yang pernah terjadi pada nenek usia 53 tahun yang bunuh diri dan menitip kerbau tiga ekor untuk acara kematiannya," tambahnya.
"Karena masyarakat Toraja percaya bahwa orang yang meninggal dan dipotongkan kerbau sebanyak tiga ekor itu akan selamat," ujarnya.