Di daerah lain yang berada jauh dari bibir pantai, warga yang selamat pakaiannya penuh lumpur.
"Rumahku tenggelam, anakku," kata seorang pria warga Kelurahan Petobo Kecamatan Palu Selatan.
Ternyata, ada bencana lain di daerah yang lokasinya sekitar 5 kilometer dari bibir pantai.
Sepekan kemudian baru diketahui ternyata bencana itu bernama likuefaksi.
Likuefaksi menyebabkan tanah ambruk lalu bergerak dan berputar seperti blender. Kelurahan Balaroa, Kelurahan Balaroa di Kota Palu dan sejumlah desa di Kabupaten Sigi terdampak bencana ini.
Ribuan orang dan rumah hingga kini tak diketahui keberadaannya.
Tower telekomunikasi serta kebun jagung bahkan berpindah lokasinya.
Dahsyatnya bencana di tanggal 28 September 2018 lalu sampai kini terus terkenang bagi masyarakat Kota Palu.
Para ulama dan habib menggelar acara doa bersama untuk mendoakan para korban bencana setiap tahunnya.
Kosongnya Pulau Rempang nanti mirip dengan Kota Palu 7 tahun lalu. ***