Rasul bersabda tidakkah kuberitahu kalian penghuni neraka yaitu setiap orang congkak, kasar berucap penuh kesombongan.
Cara berpakaian yang tidak menyesuaikan juga bisa terkategori sikap sombong. Bila berpakaian hanya mengikuti tren tren saja, tidak mempertimbang aspek halalnya semisal menutup aurat dan tidak sesuai dengan momen yang ada. Seperti shalat jumat, hendaknya berpakaian rapi dan pakaian taqwa.
Saat ada acara resmi, maka pakaian yang sesuai dan tidak menentang etika. Hal yang sangat perlu dihindari adalah pakaian yang mencirikan status lebih tinggi derajat dan lebih terpandang dihadapan manusia dibanding manusia lain.
Inilah yang diwanti-wanti oleh Nabi saw:
قَالَ: ((لا يَنْظُرُ اللهُ يَوْمَ القِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إزَارَهُ بَطَرًا)). متفقٌ عَلَيْهِ
Di hari kiamat, Allah tidak memandang kepada orang yang gaya pakaiannya mencirikan kesombongan.
Baca Juga: Jangan Mengeluh, Muslim Harus Tahan Terhadap Cobaan
Hadis ini juga bermakna larangan pada adat orang Arab Jahiliyah yang gaya pakaiannya panjang mencirikan keningratan dengan cara isbal (panjang). Secara pemahaman terbalik, yang panjang pakaiannya bukan mencirikan status sikap sombong tidak apa apa dalam Syariat Islam.
Sikap terlalu percaya diri dengan keahlian dan kemampuan, itu juga bisa terkategori sikap sombong. Qarun sepupu (anak paman) Nabi Musa as itu sangat membanggakan keahlian dagangnya, dan keahlian cara cara berhitungnya. Hal yang menjadikan ia konglomerat di zamannya. Ia lupa berucap kalau keahliannya itu adalah proses dari karunia Allah kepadanya, dan ia tidak tawadhu.
Sikap si Qarun sebagai orang yang yang mendewakan keahliannya itu, yang lupa mensyukuri itu, dianggap Allah sebagai insan sombong yang harus musnah di bumi. Kesombongan Qarun merupakan penyakit masyarakat yang hampir tak terdeteksi manusia disekelilingnya:
{إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِندِي} [القصص: 78]، أي: علم بالتجارة، ووجوه تثمير المال وعَلِمَ الله أني أهل له ففضَّلني به عليكم.
Kejayaanku karena Ilmu bisnis yang aku kuasai, Allah tahu aku pantas mendapatkan ilmu dan kejayaan itu dibanding orang lain.
Sikap Qarun ini adalah bahasa ucapan yang tidak hanya kufur nikmat, tapi menganggap dirinya istimewa dari para pesaingnya.
Allah lalu peringati Qarun bahwa banyak manusia yang hancur karena terlalu percaya diri, lupa bahwa itu semua anugerah Allah Swt :
قال الله تعالى: {أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِ مِنَ القُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا وَلا يُسْأَلُ عَن ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ} [القصص: 78].