opini

URI Bukan Jawaban, Indonesia Membutuhkan Reformasi Sistem Kaderisasi Kepemimpinan Nasional

Sabtu, 25 Juli 2026 | 07:17 WIB
FOTO: Ilustrasi. Indonesia tidak kekurangan universitas, tetapi membutuhkan reformasi sistem kaderisasi kepemimpinan nasional yang mampu melahirkan pemimpin. (Dok.MetroSelebes.com/Ist)

Baca juga: Penantian Panjang Warga Moncongloe Berakhir, Pemprov Sulsel Mulai Bangun Ruas Jalan Strategis Rp239 Miliar 

Output Perguruan Tinggi

Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya universitas, tetapi oleh kualitas sistem pendidikan yang terhubung dengan tata kelola pemerintahan yang baik. Negara-negara dengan institusi kuat umumnya menerapkan kaderisasi yang berkelanjutan, rotasi kepemimpinan yang sehat, serta meritokrasi sebagai fondasi utama dalam pengisian jabatan publik. Dengan demikian, keberlangsungan organisasi tidak bergantung pada satu figur, melainkan pada sistem yang mampu melahirkan pemimpin secara terus-menerus.

Pada akhirnya, bangsa ini tidak sedang mengalami krisis gedung kampus, melainkan krisis sistem pembentukan kepemimpinan. Membangun universitas baru dapat menjadi langkah positif apabila disertai pembaruan menyeluruh terhadap kurikulum, budaya akademik, metode pembelajaran, dan mekanisme kaderisasi. Namun tanpa reformasi tersebut, pergantian nama institusi hanya berpotensi menjadi perubahan administratif yang tidak menyentuh akar persoalan.

Baca juga: Tetap Masuk Kantor Meski Laporannya Diproses Polisi, Staf DPRD Bone: Saya Tulang Punggung Keluarga 

Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar tambahan universitas. Yang jauh lebih mendesak adalah membangun arsitektur kaderisasi nasional yang mampu menghasilkan pemimpin berintegritas, profesional, berpandangan kenegaraan, serta menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Sebab, negara yang kuat bukan dibangun oleh banyaknya institusi, melainkan oleh kualitas manusia yang berhasil dibentuk oleh sistem yang sehat, transparan, dan berkeadilan. (*)

(Penulis adalah alumni Unhas)

Halaman:

Tags

Terkini