METRO SELEBES.COM- Kementerian Agama (Kemenag) sedang melakukan perbaikan tata kelola terkait penerbitan rekomendasi mutasi guru madrasah.
Direktur GTK, Thobib Al Asyhar, menyampaikan hal tersebut agar tidak menganggu keseimbangan distribusi guru.
"Kami sedang membenahi tata kelola penerbitan rekomendasi mutasi guru, agar lebih tertib. Banyak usulan mutasi guru dari Kanwil Kemenag Provinsi yang kurang jelas alasannya, seperti karena alasan sakit tetapi tidak dibuktikan dengan keterangan dokter yang jelas dan otoritatif," tegasnya.
Thobib menambahkan bahwa rekomendasi mutasi guru dari Direktorat GTK akan diterbitkan jika memenuhi seluruh aspek yang dibolehkan oleh regulasi.
Misalnya: persyaratan administratif, pemenuhan distribusi guru berdasarkan kebutuhan lapangan, adanya alasan conflic of interest, alasan sakit sehingga diperlukan jangkauan tempat mengajar yang lebih dekat, atau mendampingi orang tua yang sedang sakit atau pasangan yang pindah tugas.
"Di beberapa kasus usulan pindah tugas, guru dari beberapa provinsi tidak disertakan alasan dan bukti-bukti yang rasional. Sehingga, rekomendasi izin mutasinya belum atau tidak bisa diterbitkan. Bahkan ada yang beralasan sakit stroke ringan tetapi yang disertakan malah keterangan dokter klinik yang menjelaskan sakit susah menelan,” ungkapnya.
Baca Juga: Kemenag: Jemaah Umrah Harus Tinggalkan Saudi Sebelum 29 Zulkaidah
Saat sessi dialog, salah satu isu yang muncul terkait fenomena di beberapa madrasah wilayah Kalbar yang banyak guru diangkat menjadi PPPK, justru pindah tugas ke tempat lain.
Sehingga sangat menganggu proporsionalitas guru di madrasah setempat.
Perbaikan tata kelola ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan di madrasah.
Baca Juga: Sekolahmu Termasuk! Ini Daftar 10 SMA Terbaik di Indonesia Berdasarkan Nilai UTBK 2023
"Pak tolong kembalikan guru-guru honorer kami yang telah diangkat menjadi PPPK yang justru ditugaskan di tempat lain. Di satu sisi kami senang mereka mendapat SK PPPK, tetapi di sisi lain membuat kami pimpinan madrasah sangat kehilangan. Bahkan kami sudah kehilangan mereka, malah dikirim guru-guru PPPK Matpel yang kami tidak butuhkan," keluh salah satu Kepala MIN 1 Pontianak.