Pewarnaannya bukan dengan dicelup melainkan dengan menorehkan warna menggunakan ranting kayu.
Salah satu tempat yang masih menjajahkan sarita dengan berbagai macam motif dan inovasi ini dapat dijumpai di Katokkon Cafe.
Baca Juga: Bukannya Memberi Solusi, Bupati Toraja Utara Malah Bentak Warga yang Blokade Jalan
Pendiri Katokkon Cafe Tana Toraja, Merda Mangayun, mengatakan bahwa lahirnya kain sarita ini diawali dari masyarakat Toraja yang hanya mengenal tanda.
"Jadi Toraja tidak mengenal huruf, jadi dia hanya mengenal simbol-simbol. Semua mengandung nilai dan doa, filosofi itu digambarkan dalam bentuk simbol-simbol," katanya.
Motif lukisan dari kain sarita ini tidak hanya dilukiskan begitu saja, namun dibalik keindahan kainnya juga terselip sebuah doa.
"Itulah yang kemudian kita ambil dan kita pakai dalam kehidupan keseharian kita, karena rata-rata semuanya itu berisi doa, pesan-pesan," ujarnya.
Baca Juga: Update Thailand Masters 2023: Bakri Menangi Perang Saudara, Ganda Campuran Bertumbangan
Setiap orang yang menggunakan ukiran sarita berarti sedang menggunakan doa pada dirinya.
"Jadi kalau kita memakainya dalam keseharian kita itu menjadi doa," tuturnya.
"Makanya ada juga kami buat dalam bentuk kecil-kecil lukisan, itu untuk orang yang tidak mau terlalu ramai," ucapnya.
Baca Juga: Begini Modus Penipuan Aplikasi Undangan Buatan Mahasiswa Pinrang, Jangan Sampai Anda Jadi Korban!
Kain sarita dapat didesain sesuai keinginan, bisa untuk fesyen ataupun dijadikan kado atau hadiah.
"Jadi hanya part-part kecil saja diambil untuk ditempelkan di fesyen, buat hiasan-hiasan dinding kecil, atau untuk hadiah kepada orang-orang tercinta atau orang yang lebih dihormati," imbuhnya. ***