Padahal, Soeharto sebelumnya sudah memiliki niat untuk lengser. Tapi gara-gara Harmoko, niatnya urung diwujudkan.
Kamis, 16 Mei 1998, Harmoko serta pimpinan DPR/MPR lainnya sempat bertemu Soeharto di Cendana.
Mereka membicarakan kondisi Indonesia dan desakan rakyat agar Soeharto mundur.
Harmoko bahkan sempat menanyakan langsung kepada Soeharto.
Baca Juga: Market Day SDN 133 Banalara Wotu, Siswa Diajar Wirausaha
"Ya, itu terserah DPR. Kalau pimpinan DPR/MPR menghendaki, ya saya mundur, namun memang tidak ringan mengatasi masalah ini," jawab Soeharto, dalam buku Detik-Detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi yang ditulis BJ Habibie.
BJ Habibie
Tokoh kedua yang ditolak Soeharto hingga meninggal adalah BJ Habibie.
BJ Habibie menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi yang pertama pada tahun 1978. Jabatan Habibie sebagai Menristek terus dipertahankan hingga empat periode.
Lalu Soeharto mengangkat Habibie sebagai Wakil Presiden RI sesuai kesepakatan Sidang MPR masa itu.
Baca Juga: 9 Fakta Unik SEA Games 2023: Mulai Kursi Plastik, Lampu Mobil, Bendera Terbalik hingga Tiket Gratis
Habibie sudah tak diterima Soeharto sejak 20 Mei 1998 ketika ia ingin berbicara melalui telepon soal rencana Presiden berhenti dari jabatannya pada 21 Mei 1998.
Padahal, Habibie masih sempat bertemu dengan Soeharto beberapa jam sebelum mendapat telepon dari Saadilah Mursyid, Menteri Sekretaris Negara, saat itu.
Dalam pertemuan itu Habibie masih berdiskusi dengan Soeharto soal pembentukan Kabinet Reformasi dan rencana pengunduran diri pada 23 Mei 1998.
Pertemuan dengan Soeharto di Istana Merdeka saat Soeharto menyatakan berhenti dan Habibie disumpah sebagai Presiden pada 21 Mei 1998, menjadi yang terakhir bagi Harmoko dan Habibie bertemu Soeharto.